batampos.co.id – Selepas hujan adalah waktu yang kurang menyenangkan bagi warga Senggarang. Pasalnya, setiap itu jalan tanah menjadi licin karena anyau (lumpur sisa penggalian bauksit) jadi turun ke jalan. Hal ini membuat warga kesulitan menembus satu-satuya akses keluar-masuk Senggarang.

Sepanjang pagi hingga siang pada Senin (8/10), menjadi puncak kekesalan warga Senggarang. Sampai dengan pukul 12.00 WIB siang, sedikitnya 25 motor, tergelincir dan terjatuh.

Hasilnya, beberapa pengendara dan penumpangnya mengalami luka lecet.

Ada pula mengalami luka bakar karena posisi jatuh yang membuat kakinya tertimpa knalpot. Dan bocah lelaki berusia, sekitar 5 tahun menjadi korban paling parah. Bagian samping kanannya memar, kakinya kirinya terluka. Dan tidak bisa digerakkan.

“Kami bawa ke Puskesmas, bayar Rp 65 ribu. Disuruh rontgen di Rumah Sakit. Tapi kami tak ada bawa duit. Kami pulang lah,” ujar sang ibu, di atas motor yang kembali melintas jalan tersebut.

Usai menyampaikan sedikit kekesalannya kepada warga yang berada di lokasi tersebut. Ia bergegas pulang. Anak lelakinya yang semula terlihat bingung, mendadak menangis menahan sakit di kakinya. Menurut ibunya, anjuran untuk merontgen kaki buah hatinya, dikarenakan ia tidak bisa menggerakkan kakinya.

Sementara itu Maryam, juga turut merasakan kekesalan serupa. Anaknya Lion (14) yang akan berangkat ke sekolah bersama kakaknya, juga terjatuh. Dengan kaki yang terluka parah, Lion akhirnya kembali pulang. Tidak melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya.

Sementara kakaknya, terluka gores di beberapa bagian tangan.

“Kami sudah berkali-kali menyampaikan ke pemerintah, untuk selesaikan masalah anyau ni sampai tuntas,” tutur Ketua forum RT RW kelurahan Senggarang, Mariono, kemarin.

Menurutnya, material bekas bauksit ini mulai membanjiri Senggarang sejak 2009 silam. Namun kondisi terparah dirasakan dua tahun belakangan. Ketika telah menutupi saluran parit di sisi jalan.

Sehingga akhirnya tanah menutupi permukaan jalan bahkan menebal.

Warga Senggarang bergotong-royong menipiskan tanah menebal yang menutupi jalan, dengan peralatan seadanya, Senin (8/10). F/Fara Batam
Pos

Bahkan menurut Mariono, ia juga telah menyampaikan hal serupa kepada pemilik usaha tambang. Namun pengusaha mengaku telah menyerahkan dana reklamasi kepada pemerintah.

Hanya, tetap saja, setelah bertahun-tahun dijanjikan penyelesaian, warga masih dirundung kesulitan kala hujan datang.

Untuk diketahui, Jalan Daeng Kamboja tidak hanya digunakan untuk sekedar keluar masuk wilayah Senggarang. Jalan tersebut juga dilintasi menuju dua sekolah dasar, SD 010 dan SD 04. Sehingga tidak sedikit, korban yang terjatuh ketika melintas ialah, anak-anak sekolah saat diantar dengan roda dua. Jalan tersebut juga merupakan satu-satunya akses menuju lokasi wisata, Klenteng Sun Te Kong, Senggarang.

“Jadi bukan hanya kami warga di sini yang lalu-lalang. Banyak sekali orang luar yang melintas di sini,” sambung Mariono.

Menurut dia, pemerintah sempat melakukan pembersihan jalan. Namun usaha yang dilakukan tidak untuk jangka panjang. Sehingga ketika diguyur hujan, kondisi yang sama berulang.

Sementara permasalahan tanah yang mengendap sepanjang jalan tersebut, tidak hanya menjadi persolan kala hujan. Namun juga ketika musim panas datang. “Debunya merah-merah nempel di dagangan kami. Akhirnya barang dagangan saya masukkan,” tutur Ita, salah seorang pemilik warung yang berada tepat di pinggir jalan tersebut.

Mau tidak mau, beberapa dagangannya terpaksa tidak laku terjual.

Utamanya, komoditas makanan. Karena kemasan yang tertempel debu yang beterbangan.

Sementara itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang serius tangani jalan Senggarang yang tertutup endapan lumpur yang turun kejalan akibat paska tambang bauksit yang belum diperbaiki  yang sangat meresahkan warga Senggarang.

Pemko koordinasi dengan Pemprov Sementara itu, keluhan warga ini mulai mendapat tanggapan dari pemerintah daerah. Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Rahma didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas PU, Camat Tanjungpinang Kota beserta Lurah Senggarang berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Riau, Senin (8/10/2018).

Kepala Dinas PU Kota Tanjungpinang, Hendri menjelaskan bahwa permasalahan ini terjadi sejak 2 bulan yang lalu dan telah ditangani untuk sementara dengan melakukan pembersihan jalan yang kami lakukan bersama staf PU yang bekerja sama dengan damkar.

“Akan tetapi upaya yang kami lakukan ini hanya bersifat sementara karena jika hujan kondisi jalan ini akan kembali tergenang lumpur yang datang dari wilayah pasca tambang bauksit tersebut,” jelasnya.

Rahma juga menjelaskan bahwa akibat pasca tambang bauksit ini sangat meresahkan warga dan terkadang juga ada warga yang terjatuh akibat jalan yang licin tertimbun lumpur tesebut.

“Saya menginginkan kerusakan akibat pasca tambang bauksit ini harus segera dapat ditangani oleh pihak perusahaan tambang ini secepat mungkin dan saya juga berharap Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Riau dapat bersinergi dalam menyelesaikan permasalahan ini,” ujarnya.(aya)