Bus pariwisata saat antre di SPBU Kilometer 16 Desa Toapaya Selatan Kecamatan Toapaya, Rabu (10/10/2018). F slamet nofasusanto / batam pos.

batampos.co.id – Pascaantrean kendaraan mencapai 100 meter di SPBU Kilometer 16 Desa Toapaya Selatan Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Selasa (9/10) lalu.

Tim Satgas Migas yang terdiri Dinas Koperasi, UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Bintan bersama Kepolisian Bintan mengawasi pembelian BBM di sejumlah SPBU di Bintan, Rabu (10/10).

PPNS DKUPP Kabupaten Bintan Setia Kurniawan menyampaikan saat ini pihaknya melihat langsung pembelian BBM di SPBU. Karena sebelumnya terjadi kelangkaan premium, namun berkembang ke solar subsidi.

Dari data di sejumlah SPBU, lelaki yang akrab disapa Iwan menyebutkan telah terjadi pengurangan pasokan solar dari Pertamina.

Seperti di SPBU Kilometer 16 Toapaya, solar yang biasanya didistribusikan sekitar 16 Kilo Liter (KL) sehari, namun saat ini berkisar 8 hingga 10 KL.

“Pasokan solar tak normal seperti biasanya, sementara konsumsi normal,” ujarnya.

Sedangkan di SPBU Km 20, ia menyebut pendistribusian solar menjadi 3 kali dalam sepekan.

“Di SPBU lain didistribusikan beberapa kali dalam sepekan sementara SPBU di Batu 16 tiap hari. Sehingga banyak kendaraan lain berburu ke sini akibatnya terjadi penumpukan kendaraan dan solar cepat habis,” jelasnya.

Dia akan membicarakan masalah ini dengan kepolisian. “Apakah nanti akan dibatasi untuk pembelian solar supaya merata,” kata dia.

Di samping itu, pihaknya juga menemukan bus-bus pariwisata dengan pelat kuning yang mengisi bbm jenis solar subsidi. Padahal menurutnya, bus pariwisata tersebut digunakan untuk bisnis.

“Kalau plat kuning memang boleh untuk subsidi sesuai Perpres nomor 191 tahun 2014 namun persoalannya ini bukan angkutan umum tapi bus pariwisata,” jelas dia.

Dalam sehari bus-bus ini ia mengatakan, rata-rata mengisi antara Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu sekali isi. Dimana 1 perusahaan bus ini bisa memiliki hingga 40 armada.

“Seharusnya bukan solar subsidi, tapi isi solar non subsidi dan bukan juga plat kuning karena masyarakat banyak yang memerlukan solar,” kata dia.

Terkait hal ini dirinya akan berkoordinasi dengan Satintelkam dan Satreskrim Polres Bintan.

Sementara pengawas SPBU Km 16 Desa Toapaya Deni Supardani menyampaikan sejauh ini belum ada larangan jika bus pariwisata tidak boleh mengisi BBM solar subsidi.

“Bus tidak ada larangannya. Kami tunggu selebaran dari pemerintah biar disosialisasikan dahulu. Kami akan ikuti peraturannya saja,” tutup dia. (met)