Prakirawan Cuaca BMKG Tanjungpinang, Ardhito memperlihatkan peta Seismositas di Kantor BMKG Tanjungpinang, Kamis (11/10/2018).
Foto: slamet nofasusanto/batam pos

batampos.co.id – Kendati bukan termasuk daerah rawan gempa, namun wilayah Kepri memiliki potensi terkena penjalaran gelombang tsunami.

Bahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang menyatakan gelombang tsunami pernah sampai ke wilayah Kepri saat gempa melanda Jepang beberapa tahun silam.

Loading...

Kepala Kantor BMKG Tanjungpinang, Dhira Utama melalui Prakirawan Cuaca BMKG Tanjungpinang, Ardhito saat ditemui, Kamis (11/10/2018) siang menjelaskan, beberapa potensi bencana alam bisa terjadi di wilayah Kepri. Diantaranya bencana alam tsunami, puting beliung dan petir yang sangat kuat.

Hanya, dijelaskannya, tsunami yang dimaksud penjalaran gelombang. Karena tsunami tidak selalu diartikan gelombang tinggi, namun gelombang rendah setelah terjadi gempa bisa dikategorikan tsunami.

“Pernah sekali terjadi penjalaran gelombang tsunami sampai ke wilayah Kepri saat gempa melanda Jepang, tapi kita tidak terasa kenaikan
gelombangnya, gelombangnya sangat kecil,” kata dia.

Potensi tsunami ini menurut dia karena wilayah Kepri berdekatan dengan Laut China Selatan.

“Jika terjadi gempa di daerah-daerah dekat Filipina atau Jepang, kemungkinan penjalaran gelombang tsunaminya bisa ke arah timur laut dan bisa mencapai wilayah Kepri walaupun kenaikannya kadang tidak terdeteksi,” kata dia.

Daerah yang rawan terkena penjalaran gelombang tsunami di wilayah Kepri, kata dia, daerah – daerah yang langsung berhadapan dengan Laut China Selatan misalkan Natuna, Anambas, Pesisir Utara, dan Timur Bintan.

“Kita tidak tahu kondisi ke depan akan seperti apa nantinya namun kalau Anambas dan Natuna hilang (disapu tsunami), kita wajib waspada,” kata dia.

Untuk peringatan dini bencana alam, ia menjelaskan biasanya BMKG akan menginfokan baik melalui media sosial (medsos) maupun melalui media lainnya.

“Jadi masyarakat juga bisa menginstal aplikasi info BMKG di playstore atau bisa dengan mengikuti info BMKG di medsos seperti twitter, IG, dan lainnya,” jelasnya.

Bila terjadi tsunami, dia juga mengimbau masyarakat untuk lari ke tempat yang aman dan lebih tinggi salah satunya, bangunan sekolah atau desa yang lebih tinggi.

Ardhito berharap edukasi terkait bencana alam perlu dilakukan, misalkan perlu diberikan simulasi mengenai kejadian tsunami walaupun jarang terjadi. (met)

Loading...