Warga Senggarang bergotong-royong menipiskan tanah menebal yang menutupi jalan, dengan peralatan seadanya, Senin (8/10). F/Fara Batam
Pos

batampos.co.id – Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak bisa berbuat banyak menjawab keluhan warga Senggarang berkenaan dengan jalan yang becek dan licin setiap usai hujan turun. Pasalnya, jalan itu merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Kepri yang berkaitan dengan tanggung jawab bekas lahan tambang bauksit.

Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul tidak bisa memberikan kepastian. “Itu wewenang Provinsi. Kami belum terima laporan lagi seperti apa keputusannya dari Dinas Pertambangan Kepri,” kata Syahrul, Senin (15/10/2018).

Sekarang yang bisa dilakukan hanya menunggu tindak lanjut dari Pemprov Kepri. Syahrul berharap bisa cepat diambil tindakan lanjutan.

Mengingat sepanjang tahun ini diprediksi akan menjadi musim hujan dan sudah pasti jalanan di Senggarang tersebut menjadi licin dan membahayakan bagi pengendara.

Sebelumnya, pada rapat pertemuan dengan Pemprov Kepri, Kepala Dinas PU Tanjungpinang, Hendri menjelaskan bahwa permasalahan ini terjadi sejak 2 bulan yang lalu dan telah ditangani untuk sementara dengan melakukan pembersihan jalan yang dilakukan bersama staf PU yang bekerja sama dengan petugas Damkar.

“Akan tetapi upaya yang kami lakukan ini hanya bersifat sementara karena jika hujan kondisi jalan ini akan kembali tergenang lumpur yang datang dari wilayah pasca tambang bauksit tersebut,” jelasnya.

Jalan becek dan licin yang disinyalir akibat pascatambang bauksit di sekitar wilayah permukiman ini memang sudah lama bikin warga resah.

Tak sekali warga terjatuh akibat jalan yang licin tertimbun lumpur tersebut.

“Kami menginginkan kerusakan akibat pascatambang bauksit ini harus segera dapat ditangani,” ujar Hendri.

Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, elepas hujan adalah waktu yang kurang menyenangkan bagi warga Senggarang. Pasalnya, setiap itu jalan tanah menjadi licin karena anyau (lumpur sisa penggalian bauksit) jadi turun ke jalan. Hal ini membuat warga kesulitan menembus satu-satuya akses keluar-masuk Senggarang. Pada awal pekan lalu, sedikitnya 25 motor, tergelincir dan terjatuh.

Hasilnya, beberapa pengendara dan penumpangnya mengalami luka lecet.

Ada pula mengalami luka bakar karena posisi jatuh yang membuat kakinya tertimpa knalpot. Dan bocah lelaki berusia, sekitar 5 tahun menjadi korban paling parah. Bagian samping kanannya memar, kakinya kirinya terluka. Dan tidak bisa digerakkan

“Kami bawa ke Puskesmas, bayar Rp 65 ribu. Disuruh rontgen di Rumah Sakit. Tapi kami tak ada bawa duit. Kami pulang lah,” ujar sang ibu, di atas motor yang kembali melintas jalan tersebut.

Usai menyampaikan sedikit kekesalannya kepada warga yang berada di lokasi tersebut. Ia bergegas pulang. Anak lelakinya yang semula terlihat bingung, mendadak menangis menahan sakit di kakinya. Menurut ibunya, anjuran untuk merontgen kaki buah hatinya, dikarenakan ia tidak bisa menggerakkan kakinya.

Sementara itu Maryam, juga turut merasakan kekesalan serupa. Anaknya, Lion, 14, yang akan berangkat ke sekolah bersama kakaknya, juga terjatuh. Dengan kaki yang terluka parah, Lion akhirnya kembali pulang. Tidak melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya. Sementara kakaknya, terluka gores di beberapa bagian tangan.

“Kami sudah berkali-kali menyampaikan ke pemerintah, untuk selesaikan masalah anyau ni sampai tuntas,” tutur Ketua forum RT RW kelurahan Senggarang, Mariono.

Menurutnya, material bekas bauksit ini mulai membanjiri Senggarang sejak 2009 silam. Namun kondisi terparah dirasakan dua tahun belakangan. Ketika anyau telah menutupi saluran parit di sisi jalan.

Sehingga akhirnya tanah menutupi permukaan jalan hingga bahkan menebal. (aya)