Petugas memperbaiki salah satu pipa PDAM yang rusak di jalan Juanda Tanjungpinang, Jumat(6/1). F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Anggota DPRD Kepri, Rudy Chua mengatakan persoalan besar yang belum tuntas di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang adalah mengenai kebutuhan air bersih. Menurut jumlah daftar tunggu (waiting list) di PDAM Tirta Kepri terus bertambang.
“Jika pada dua tahun lalu masih sekitar 5.000. Pada tahun ini, sudah tembus pada angka 7.268 rumah tangga yang mengajukan usulan untuk mendapatkan pelayanan PDAM,” ujar Rudy Chua, kemarin.
Politisi Partai Hanura tersebut menyebutkan, persoalan kebutuhan air bersih ini menjadi perhatian serius pihaknya. Karena pada 2016 lalu, dari 60 ribu rumah, kantor dan ruko di Tanjungpinang, belum semua mendapatkan pelayanan PDAM. Bahkan jumlah yang terlayani masih sekitaran 17 ribu rumah, kantor, dan ruko atau masih dibawah 30 persen.
“Setiap tahun grafik pertumbuhan perumahan dan ruko di Tanjungpinang terus terjadi. Sementara sumber-sumber air baku belum ada penambahan. Baik untuk jangka menengah ataupun jangka panjang,” papar Rudy Chua.
Disebutkan Rudy, Waduk Sei Pulai, Tanjungpinang memang memiliki kapasitas maksimal 250 liter perdetik. Jumlah tersebut tergantung pada kondisi air baku yang bersumber dari hujan. Sementara Waduk Gesek dengan kapasitas 100 liter perdetik sedikit mengurangi beban PDAM.
“Begitu juga dengan hadirnya SWRO dengan kapasitas 50 liter perdetik bisa melayani lebih kurang 4.000 rumah tangga,” paparnya lagi.
Masih kata Rudy, saat ini sedang digesa pembangunan Waduk Kawal dengan kapasitas 400 liter perdetik. Namun jika total kemampuan dari semua sumber tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang.
“Waduk Kawal memang digesa rampung tahun ini. Tetapi belum didukung dengan pengadaan pipa instalasi. Tentu masih membutuhkan waktu untuk memberikan manfaat,” tegas Rudy.
Ada beberapa skenario untuk operasional Waduk Kawal itu nanti. Yakni akan disambungkan ke Waduk Sei Gesek. Akan tetapi, kapasitas Waduk Sei Gesek hanya 100 liter perdetik. Sementara itu, Waduk Kawal adalah 400 liter perdetik. Sehingga sangat beresiko jika itu dipaksakan.
“Pembangunan Waduk dikerjakan oleh Satker SDA, Kemen PUPR. Sedangkan pipa menjadi ranahnya Cipta Karya. Sejak kasus SWRO, pengadaan jaringan pipa sulit didapat Provinsi Kepri,” jelas Rudy.
Lebih lanjut katanya, saat memang banyak rumah tangga di Tanjungpinang yang bergantung dengan sumur. Namun, seiring tumbuhnya pembangunan, rumah, ruko dan kantor tentu akan menggerus persediaan tersebut. Belum lagi ada yang menggunakan sumur bor.
“Sumur bor juga sangat beresiko. Apabila semakin banyak yang
menggunakannya. Tentu akan mengancam Tanjungpinang kedepannya,” jelasnya lagi.
Berangkat dari kekhawatirannya itu, ia meminta Pemprov Kepri, Pemko Tanjungpinang ataupun Pemkab Bintan yang berada di Pulau Bintan ini untuk sama-sama memberikan perhatian serius. Karena negara bertanggungjawab memenuhi kebutuhan tersebut bagi masyarakat.
“Yang jelas, dari apa yang kita pantau PDAM masih terbatas kemampuan dalam hal revitalisasi pipa tua dan penambahan pipa untuk jaringan baru,” tutup Rudy Chua.
Belum lama ini, dalam kegiatan Ngobrol Pagi (Ngopi) Bareng Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Tanjungpinang, Walikota Tanjungpinang, Syahrul mengatakan persoalan kebutuhan air bersih untuk masyarakat Kota Tanjungpinang masuk dalam rencana kerjanya lima tahun kedepan.
“Harus kita akui, Tanjungpinang mengalami peningkatan dalam hal pembangunan rumah, kantor dan ruko. Tentu penambahan tersebut akan turut mempengaruhi tingkat kebutuhan air bersih,” ujar Syahrul.(jpg)