Kondisi bangunan rawat inap RSUD Kabupaten Bintan yang mangkrak. F. Slamet Nofasusanto / Batam Pos.

batampos.co.id – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bintan Juni Rianto menyampaikan, Bupati Bintan Apri Sujadi berkomitmen terhadap pelayanan publik terutama fasilitas kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bintan.

Dikatakannya, APBD P 2018 ini dikucurkan anggaran sekitar Rp 2 miliar lebih untuk pembangunan ruang gizi dan ruang ibu anak. Selain itu dialokasikan pula anggaran sebesar Rp 500 juta untuk penataan lahan parkir di rumah sakit pelat merah ini.
“Saat ini dalam proses lelang. Paling lama seminggu ini selesai (lelangnya) jadi sudah mulai dikerjakan,” kata Juni ditemui di Pujasera Pasar Tani Kilometer (Km) 16 Kelurahan Toapaya Asri Kecamatan Toapaya, Kamis (18/10) siang.
Juni juga menegaskan, bahwa Pemkab Bintan juga berkomitmen merampungkan pembangunanĀ  gedung rawat inap di rumah sakit tersebut.
“Sudah komitmen Pak Bupati akan menyelesaikan ini segera. Akan menjadi prioritas dalam Renja 2019 sudah masuk karena prioritas Pak Bupati. Akan dialokasikan sekitar Rp 5 miliar,” jelas dia.
Dijelaskan Juni alasan pembangunan ruang rawat inap tidak dilanjutkan 2018 ini dikarenakan waktu yang singkat dan anggaran yang terbatas.
“Tetap menjadi prioritas Pak Bupati,” tutup dia.
Sementara itu Humas RSUD Kabupaten Bintan drg Adrian saat ditemui Batam Pos mengawali perbincangan bahwa dirinya tidak tahu kronologis mangkraknya gedung rawat inap ini.
Sejak dia mengabdi sebagai dokter di rumah sakit plat merah ini, kondisi gedung sekarang dan pertama dia masuk sama.
“Ruang rawat inap (sebenarnya) kami mendesak (kebutuhannya), kalau (mangkrak) rinciannya saya kurang paham bagaimana prosesnya (sampai mangkrak),” ujar lelaki asal Sumatera Utara ini.
Yang dia tahu bahwa dua gedung ini dipersiapkan untuk gedung rawat inap bagi pasien kelas I dan VIP.
Karena saat ini rumah sakit baru memiliki layanan pasien dengan fasilitas ruang rawat inap kelas II dan III serta ruang rawat inap buat pasien anak-anak.
Lebih jauh ia mengatakan sejauh ini pasien di RSUD Kabupaten Bintan rata-rata dari pasien kelas III.
Membludaknya pasien kelas III yang rawat inap membuat manajemen rumah sakit terpaksa menaikkan fasilitas layanan kesehatan pasien dari fasilitas kelas III ke kelas II.
“Dengan semakin banyak pelayanan, kebutuhan rawat inap akan sangat tinggi. (Kalau) kelas 3 sekarang penuh, terpaksa kita naikkan ke kelas 2,” ujarnya.
Dia melanjutkan, manajemen juga menyediakan fasilitas kamar kelas II yang fasilitasnya setara kelas I dan VIP.
“Ada 1 ruangan buat pasien kelas VIP,” kata dia.
Bicara tempat tidur pasien, ia menjawab saat ini tempat tidur bagi pasien secara keseluruhan berjumlah 80 tempat tidur.
Standarnya rumah sakit kelas C ini memiliki tempat tidur berkisar 150 sampai dengan 200 tempat tidur.
“Target rumah sakit tipe C, 150 sampai 200 bed,” ujar dia.
Tahun 2018 ini masih kata Adrian akan diselesaikan pembangunan ruang kebidanan dan gizi. Dia mengaku mendengar rencana pemerintah melanjutkan pembangunan gedung rawat inap yang mangkrak pada 2019 nanti.
“Estimasi (anggaran) saya tidak tahu sebab rumah sakit tidak (memiliki anggaran) membangun jadi ke dinas lainnya. Rumah sakit menerima jadi saja (bangunannya),” tuturnya.
Pantauan di lapangan, dua gedung ruang rawat inap yang mangkrak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bintan di Kijang Kecamatan Bintan Timur Kabupaten Bintan bersemak.
Pagar seng setinggi 2 meter berwarna biru mengelilingi bangunan. Kendati beberapa lembar seng tidak berdiri sempurna.
Dari seng tersebutlah, Batam Pos bisa melihat-lihat ke dalam gedung yang dibangun era Bupati Bintan Ansar Ahmad.
Berteman seorang staf rumah sakit, wartawan Batam
Pos bisa merekam sudut demi sudut gedung. Gedung pertama ruang rawat inap sudah berpondasi bahkan beratap. Yang belum ialah belum berdinding.
Sedangkan gedung kedua dibangun dua lantai. Telah memiliki tangga ke lantai 2 namun belum berdinding. Semak belukar menjamah kedua gedung.
  1. Diberitakan sebelumnya mangkraknya dua gedung rawat inap RSUD Kabupaten Bintan menarik jaksa untuk menyelidikinya terlebih pembangunan ini menelan anggaran Rp 12 miliar,

    namun tak juga rampung. (met)