Petugas PDAM melakukan perbaikan kebocoran dengan menggunakan pipa VCN di Jalan DI. Panjaitan KM 9 Tanjungpinang. F. Jailani/Batampos
batampos.co.id – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan catatan khusus kepada PDAM Tirta Kepri. Karena tingginya tingkat kebocoran yang mencapai 40 persen. Sehingga tidak bisa memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.
“Soal kebocoran memang menjadi temuan BPK. Sejauh ini, PDAM berusaha untuk membenahi sesuai dengan kemampuan yang ada,” ujar Mantan Pengawas PDAM Tirta Kepri, Yudi Carsana menjawab pertanyaan Batam Pos, Jumat (19/10) di Tanjungpinang.
Pria yang belum lama meletakan jabatan sebagai Pengawas PDAM tersebut menjelaskan, ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya kebocoran. Karena tidak semua pipa yang ada dibadan jalan, menggunakan pipa sesuai dengan standar seperti pipa High Density Polyethylene (HDPE). Pipa ini terbuat dari plastik dengan elastisitas tinggi sehingga bisa digulung dan lebih tahan dibandingkan dengan pipa VCN.
“Selain itu, pipa-pipa cacing juga banyak menyebabkan terjadinya kebocoran dalam penyaluran air,” jelas Yudi Carsana.
Disebutkannya, atas temuan tersebut, PDAM diwarning oleh BPK untuk menekan angka kebocoran sampai 20 persen. Masih kata Yudi, yang menjadi kendala adalah banyak pipa-pipa tua yang masih menggunakan pipa PCN. Sedangkan jaringan yang menggunakan HDPE masih belum banyak.
“Untuk merevilitasi jaringan secara keseluruhan dengan sistem HDPE juga membutuhkan biaya tidak sedikit. Sementara kemampuan PDAM sangat terbatas,” papar Yudi.
Terpisah, Anggota DPRD Kepri, Dapil Tanjungpinang, Rudy Chua mengatakan standar perpipaan sekarang ini adalah menggunakan pipa HDPE. Tetapi banyak jaringan PDAM di Tanjungpinang ini yang menggunakan VCN. Bahkan pipa tersebut masih ada di badan-badan jalan.
“Memang kalau dilihat dari efesien atau tidaknya, pipa HDPE lebih menjanjikan ketimbang PCN. Begitu juga daya tahannya. Tetapi ketiga terjadi kerusakan, belum bisa menggunakan dua pipa yang berbeda,” ujar Rudy.
Ditambahkannya, syarat utama untuk memperbaiki jaringan adalah dengan melakukan peremajaan. Selain membutuhkan biaya yang besar, banyak persoalan juga yang akan terjadi. Karena jaringan pipa lama membentang dibadan-badan jalan. Panjangnya tentu bisa terlihat pada titik-titik bocor yang terjadi ditengah jalan.
“Satu dilema juga tentunya, ketika akan dilakukan peremajaan skala besar akan merusak jalan. Sementara itu, jika dibiarkan tingkat kebocoran terus terjadi,” jelas Rudy Chua.(jpg)