batampos.co.id – Tanjungpinang hingga saat ini diyakini masih

menjadi pasar dan wilayah transit bisnis peredaran narkoba.
Kondisi ini menjadikan ibu kota provinsi ini, berada di urutan kedua tingkat peredaran narkoba di Kepri.
“Narkoba menyasar ke seluruh usia dan profesi. Karena narkoba tidak hanya bentuk kejahatan, namun juga bisnis. Maka ini yang harus ditangkal,” ucap Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kepri, Richard M N, Rabu (4/11/2018).
Mempersempit ruang peredaran bisnis narkoba adalah kunci agar bisnis haram ini bisa dicegah. Hanya saja BNN meyakini tak bisa bekerja sepihak. Karena itu BNN mengajak pemerintah daerah bersinergi untuk sama-sama memberantas peredaran narkoba. Rabu (14/11/2018), telah terjalin kesepakatan bersama dengan Pemko Tanjungpinang.
Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul tak menyangkal, Tanjungpinang sebagai  salah satu gerbang masuk narkoba. Karena itu tidak bisa hanya  melakukan hal-hal yang sama. Perlu juga, kata Syahrul, dijalankan beberapa program inovasi yang diharapkan mampu menekan dan mencegah peredaran narkoba.
“Kota jni menjadi salah satu pintu gerbang masuk. Ketiga terawan di Indonesia, karena dekat dengan negeri tetangga,” paparnya.
Sehingga salah satu program yang akan dijalankan nanti, akan melibatkan mubaligh. Syahrul menjelaskan, para mubaligh tersebut akan melangsungkan sosialisasi penanggulangan peredaraan dan penggunaan narkoba.
“Perihal lainnya berkenaan dengan pegawai. Dari Pemko beberapa orang akan membantu untuk merealisasikan upaya pencegahan narkoba itu,” pungkasnya. (aya)