General Manager (GM) PT. Angkasa Pura II (AP II) Cabang Tanjungpinang, Hotasi Manalu.F.Jailani / Batam Pos

batampos.co.id –¬†General Manager (GM) PT. Angkasa Pura II (AP II) Cabang Tanjungpinang, Hotasi Manalu mengharapkan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun memberikan atensi khusus untuk pemotongan bukit didepan landasan pacu Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang. Sehingga bisa menimalisir resiko terjadinya gangguan penerbangan.

“Jika pemotongan bukit dibiarkan berlarut, tentu kita sangat dirugikan. Karena take off dan landing hanya bisa menggunakan dari satu arah,” ujar Hotasi Manalu menjawab pertanyaan Batam Pos, Kamis (10/1) di Tanjungpinang.

Menurut Hotasi, apabila landasan Bandara RHF bisa dipergunakan dari dua arah, tentu ketika terjadi gangguan cuaca bisa menyesuaikan. Baik itu untuk kepentingan lepas landas maupun pendaratan. Atas dasar itulah, pihaknya mengharapkan Pemprov Kepri segera membuat kebijakan.

“Sekarang ini kita sudah menyandang status sebagai Bandara Internasional. Namun dari sisi fasilitas tersebut masih ada hal-hal yang harus diselesaikan,” jelas Hotasi.

Ditanya apakah kegiatan tersebut boleh menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)? Mengenai hal itu, karena ada komitmen bersama, tentu pihaknya berkomunikasi satu arah, yakni ke Pemprov Kepri. Jika memang kemampuan anggaran daerah minim, Pemprov tentu punya kapasitas untuk melakukan lobi-lobi ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan.

“Memang kebutuhkan anggaran cukup besar untuk pemotongan tersebut. Penambahan panjang run way sudah lama kita tuntaskan, namun belum bisa dipergunakan. Karena dinilai tidak safety untuk penerbangan,” tegas Hotasi.

Disebutkan Hotasi, berdasarkan surat permohonan yang disampaikan AP II Tanjungpinang ke Pemprov Kepri Juni 2018 lalu, kebutuhan anggaran untuk pemotongan bukit didepan landasan pacu Bandara Internasional RHF Tanjungpinang adalah sebesar Rp192 miliar. Besarnya biaya tersebut, karena harus memangkas ketinggian bukit dari 6 derjat ke 3 derjat.

“Jumlah tersebut diperuntukan bagi pemangkasan bukit sebanyak 4.063.077 meter kubik,” jelasnya.

Lebih lanjut katanya, pekerjaan perpanjangan landasan sudah dilakukan dua kali secara bertahap. Pada pembangunan awal adalah 1.856 meter. Kemudian diperpanjang menjadi 2.256 meter. Perpanjangan terakhir adalah penambahan 250 meter, sehingga panjang landasan RHF saat ini adalah 2.506 meter.

“Sampai saat ini, standar keamanan penerbangan adalah penggunaan run way sepanjang 2.256 meter. Makanya ketika pesawat landing, harus diganggu dengan penekanan rem yang kuat untuk mencegah pesawat lepas kendali,” tutup Hotasi Manalu.

Belum lama ini, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun mengaku belum mendapatkan penjelasan dari Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kepri, Jamhur Ismail prihal permohonan PT. Angkasa Pura II (AP II) Tanjungpinang. Menurut Gubernur, persoalan tersebut harus segera didiskusikan dengan pihak-pihak terkait.

“Untuk kepentingan investasi dan pembangunan daerah, tentunya kita sangat membutuhkan keberadaan Bandar Udara (Bandara) yang representatif tentunya,” ujar Gubernur Nurdin.(jpg)

Yuk Baca