Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, Tjetjep Yudiana.F.Cipi Ckandina / Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kepri, Tjetjep Yudiana mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap serangan demam berdarah dengue (DBD) di Kepulauan Riau (Kepri). Karena ada sejumlah kasus, penderitanya sampai harus menjalani transfusi darah.

“Sampai pertengahan Januari ini, memang sudah terjadi sejumlah kasus DBD di Kepri. Situasi ini, harus menjadi perhatian bersama. Sehingga kita bisa mencegah jangan sampai terjadi peningkatan kasus serupa,” ujar Tjetjep Yudiana menjawab pertanyaan Batam Pos, Minggu (13/1) di Tanjungpinang.

Loading...

Dijelaskannya, apabila ada keluarga yang terserang panas, sebaiknya jangan diabaikan atau melakukan penenganan sendiri. Karena gejala DBD diawali dengan demam panas. Atas dasaar itu, ia mengharapkan jika ada ditemukan, sebaiknya diperiksa ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Rumah Sakit terdekat.

“Jika memang jangkauannya jauh, tentu harus ke klinik terdekat. Sehingga bisa memastikan, bahwa itu gejala DBD atau tidak,” tegas Tjetjep.

Masih kata Tjetjep, jika sebelum-sebelumnya gejala DBD baru akan diketahui setelah empat hari terserang. Namun sekarang ini, dalam dua sudah dapat dideteksi. Ia sangat berharap kerjasama masyarakat, untuk menjaga kebersihan lingkungan. Sehingga tidak memberikan ruang bagi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus untuk berkembang biak.

“Kedua jenis nyamuk tersebut cenderung menyukai aroma tubuh manusia. Sehingga melalui gigitan, virus DBD disebarkan,” jelas Tjetjep.

Pada kesempatan tersebut, Tjetjep juga menyebutkan, jumlah kasus DBD di Provinsi Kepri tahun lalu mengalami penurunan yanga signifikan. Dari 168 kasus DBD pada 2017, turun menjadi 113 kasus pada 2018. Penurunan kasus DBD terjadi hampir di semua kabupaten/kota.

Di Kota Batam, pada November 2018 ada 72 kasus. Kemudian turun menjadi 43 kasus pada Desember. Lalu di Kota Tanjungpinang dari sebelumnya 39 kasus turun menjadi 20 kasus. Selanjutnya di Kabupaten Lingga, Natuna, dan Anambas tidak ditemukan kasus DBD pada Desember 2018.

“Semua daerah menurun. Kanya di Kabupaten Karimun yang naik dari 10 kasus menjadi 22 kasus. Daerah lain ada yang tidak ada kasus DBD,” papar Tjetjep.

Penurunan kasus DBD sungguh di luar dugaan. Sebab tidak ada program pencegahan secara massal yang dijalankan. Dinkes di masing-masing daerah disibukkan dengan proses vaksinasi Measles Rubella (MR) dalam beberapa bulan terakhir.

Fokus pemenuhan target vaksinasi MR sampai menggeser program-program pencegahan penyakit lain yang memang telah disusun sebelumnya. Walaupun akhirnya target vaksinasi MR di banyak daerah tidak tercapai. Di Kepri sendiri, masifnya gerakan vaksinasi MR sampai berpengaruh pada program pencegahan penyakit DBD. Program pencegahan secara massal yang rencananya dilakukan di empat kabupaten/kota terpaksa ditunda.

“Terpaksa kami tunda dulu karena fokus untuk MR. Walaupun tidak tercapai target,” paparnya lagi.

Ditambahkan Tjetjep, namun meski kasus DBD terjadi penurunan, Dinkes Kepri tetap tidak lengah dengan tetap melanjutkan program yang sebelumnya tertunda. Pemerintah Provinsi Kepri akan menyurati setiap kabupaten/kota untuk melakukan tindakan pencegahan DBD pada 2019.

“Kita tidak boleh lengah dan harus tetap waspda. Upaya antisipatif adalah dengan melakukan tindakan pencegahan, seperti fogging dan menjaga kebersihan lingkungan,” tutup Tjetjep Yudiana.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kepri, Teddy Jun Askara (TJA) juga mengharapkan perhatian dan kerjasama masyarakat untuk mencegah terjadinya penyebaran DBD. Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Provinsi Kepri tersebut menjelaskan, resiko diserang DBD tentu sangat fatal.

“Karena berpotensi menyebabkan kematian. Maka dari itu, harus sama-sama kita cegah,” ujar Teddy, kemarin di Tanjungpinang.(jpg)

Loading...