Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Tanjungpinang, Hendri.F.Istimewa

batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kebutuhan air bersih di Tanjungpinang. Karena hanya bergantung pada suplai air bersih yang ada di Bintan.

“Jika kita berbicara internal kota Tanjungpinang, tentu daya mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih sangat terbatas,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Tanjungpinang, Hendri, Jumat (8/3) di Tanjungpinang.

Loading...

Dijelaskannya, kemampuan suplai air bersih yang ada di Tanjungpinang hanya bersumber dari Waduk Sei Pulai. Adapun daya mampunya adalah sekitar 250 liter perdetik. Kemampuan maksimal tersebut, akan tereduksi jika musim kemarau berkepanjangan.

“Sumber lainnya adalah SWRO. Tetapi kapasitas layanannya juga sangat terbatas,” jelas Hendri.

Menurut Hendri, suplai air tambahan memang bersumber dari luar Tanjungpinang, yakni Bintan. Karena memang, Tanjungpinang masih banyak rumah dan kantor yang menggunakan sumur dan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya.

“Jika memang dam Busung adalah jawaban jangka panjang, tentu kita sangat mengharapkan itu segera terlaksana,” tutup Hendri.

Terpisah, Legislator Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua mengatakan sekarang ini jumlah penduduk Tanjungpinang mencapai 227 ribu jiwa. Jika acuan penggunaan air 60 liter perhari untuk setiap individu, tentu bisa dihitung berapa kebutuhan Tanjungpinang keseluruhan.

“Secara keseluruhan kebutuhan air bersih di Tanjungpinang untuk satu hari mencapai 13 juta liter,” ujar Rudy Chua.

Ditegaskannya, persoalan air bersih memang harus segera dituntaskan. Atas dasar itu, ia mendesak Pemprov Kepri untuk segera melakukan pembebasan lahan pembangunan Dam Busung. Menurutnya, meskipun Waduk Kawal dengan kapasitas 400 liter perdetik bisa dinikmati pada 2021 mendatang, namun jumlah tersebut belum cukup.

“Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV sudah memasukan pembangunan Dam Busung sebagai salah satu rencana kerja strategis jangka panjang,” ujar Rudy Chua, kemarin.

Sebelumnya, Kepala Seksi (Kasi) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri, Rodi Yantari mengatakan berdasarkan defisit air baku menjadi persoalan serius yang akan mengancam Pulau Bintan. Karena meskipun Waduk Kawal rampung natinya, persoalan air masih belum tuntas.

“Berdasarkan analisasi neraca air baku oleh Bali Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, pada 2016 lalu defisit air di Pulau Bintan adalah 211 liter perdetik,” ujar Rodi.

Masih kata Rodi, BWS memperkirakan apabila tidak ada embung atau waduk yang segera dibangun, maka pada 2020 mendatang defisit air baku di Pulau Bintan mencapai pada angka 948 liter perdetik.

“Saat ini pembangunan embung Waduk Kawal dengan kapasitas sekitar 400 liter perdetik terus digesa. Infrastruktur tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2019 ini. Namun baru bisa memberikan kontribusi pada 2021 mendatang,” jelas Rodi.

Menurut Rodi, harapan jangka panjang untuk menuntaskan persoalan defisit air baku di Pulau Bintan hanya melalui Dam Busung, Bintan. Karena kawasan tersebut memiliki daerah tangkapan air sebesar 126 meter persegi.

“Sedangkan debit andalannya adalah 4.000 liter perdetik. Adapun rencananya adalah 2.500 liter perdetik untuk kebutuhan Kota Batam. Sementara itu 1.500 untuk kebutuhan Pulau Bintan,” tutup Rodi Yantari.(jpg)

Loading...