Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail.F.Dokumen Pribadi untuk Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail mengatakan tidak ada pilihan lain untuk menuntaskan persoalan kebutuhan air baku bagi penduduk Pulau Bintan (Bintan-Tanjungpinang) selain pembangunan Estuaridam Busung. Menurut Ismail, BWS Sumatera IV menunggu proses pembebasan lahan diselesaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda).

“Untuk memenuhi kebutuhan air di Pulau Bintan tidak opsi lain untuk jangka panjang, selain menyegerakan pembangunan Estuaridam Busung,” ujar Ismail, Rabu (13/3).

Loading...

Dijelaskannya, berdasarkan analisasi neraca air baku oleh Bali Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, pada 2016 lalu defisit air di Pulau Bintan adalah 211 liter perdetik. Jumlah tersebut akan terus bertambah apabila tidak ada embung atau waduk yang segera dibangun, maka pada 2020 mendatang defisit air baku di Pulau Bintan mencapai pada angka 948 liter perdetik.

“Saat ini pembangunan embung Waduk Kawal dengan kapasitas sekitar 400 liter perdetik terus digesa. Infrastruktur tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2019 ini. Namun baru bisa memberikan kontribusi pada 2021 mendatang,” jelas Ismail.

Ditegaskan Ismail, satu-satunya harapan jangka panjang untuk menuntaskan persoalan defisit air baku di Pulau Bintan hanya melalui Dam Busung, Bintan. Karena kawasan tersebut memiliki daerah tangkapan air sebesar 126 meter persegi. Sedangkan debit andalannya adalah 4.000 liter perdetik.

“Adapun rencananya adalah 2.500 liter perdetik untuk kebutuhan Kota Batam. Sementara itu 1.500 untuk kebutuhan Pulau Bintan. Artinya harus simbiosis mutualisme antara Pulau Batam dengan Pulau Bintan kedepannya,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut katanya, untuk pembangunan Estuaridam Busung memang membutuhkan wilayah yang luas. Sehingga konsekuensinya ada perkampungan penduduk yang akan direlokasi. Ia berharap, masyarakat dapat memahami dengan rencana pembangunan strategis ini. Karena ini sifatnya untuk kepentingan bersama, bukan pribadi atau kelompok.

“Air adalah kebutuhan dasar yang harus kita penuhi. Masyarakat yang terkena dampak juga diharapkan tidak arogan dengan berpikir untuk kepentingan pribadi,” harap Ismail.

Terpisah, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan (Barenlitbang) Provinsi Kepri, Naharuddin mengatakan untuk pembangunan Estuaridam Busung memang memerlukan kajian secara teknis oleh oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan.

“Rencana pembangunan Dam Busung memang merupakan salah satu kebutuhan daerah. Karena persoalan air menjadi salah satu yang harus dituntaskan,” ujar Naharuddin.

Seperti diketahui, kebutuhan anggaran untuk pembebasan lahan yang ditaksir mencapai Rp 400 hingga Rp 500 miliar. Dalam rencana kerja BWS Sumatera IV, pembangunan tersebut masuk dalam program strategis nasional yang akan dimulai pada tahun 2021 dengan menelan anggaran sekitar Rp 1,3 triliun.(jpg)

Loading...