Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail. F.BWS Sumatera IV untuk Batam Pos

PRO PINANG – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Ismail mengatakan pembangunan Dam Sei Gong, Batam sudah tuntas. Apabila tidak ada halangan, akan diresmikan pekan depan oleh Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, Hari Suprayogi dan Plt Gubernur Kepri, Isdianto.

“Dam Sei Gong adalah salah satu proyek strategis bidang perairan di Kepri. Kehadiran infrastrutur dengan kapasitas 400 liter perdetik ini untuk menjawab kebutuhan air di Batam,” ujar Ismail, Kamis (18/7).

Menurut Ismail, Dam Sei Gong memiliki luas area mencapai 355 hektare. Hal itu menjadikan Sei Gong sebagai bendungan terbesar di Kepri. Dengan daya tampung sekitar 11 juta meter kubik, bendungan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air masyarakat Batam.

Lebih lanjut katanya, saat ini, kebutuhan air di Batam masih didukung beberapa waduk kecil yang tersebar di sejumlah wilayah.

Dijelaskannya, bendungan yang ada saat ini sudah tidak bisa maksimal memenuhi kebutuhan air masyarakat. Terlebih ketika musim kemarau seperti sekarang. Air di waduk mengalami penyusutan yang cukup signifikan.

“Sejak 2016 ketersediaan air bagu di Batam tidak mencukupi kebutuhan sehingga terjadi defisit 371 liter per detik dan akan bertambah mencapai 1.597 liter per detik pada 2020,” jelas Ismail.

Masih kata Ismail, keberadaan Dam Sei Gong yang berkapasitas 400 liter per detik dapat menutup defisit saat ini. Bendungan senilai Rp238 miliar ini memiliki luas genangan 355 hektare dengan volume tampung 11,80 juta meter kubik. Ditambahkannya, rencana jangka panjang tentunya adalah konekting dari Estuari Dam Busung, Bintan.

“Karena Dam Busung nanti, kapasitasnya 10 kali lipat dari Sei Gong ini. Tentunya dipersiapkan untuk kebutuhan air Batam-Bintan untuk jangka panjang” tutup Ismail.

Terpisah Legislator Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah menilai kehadiran Waduk Sei Gong, Batam tersebut tidak akan bisa dinikmati langsung manfaatnya. Bahkan ia mempertanyakan kemana pelayanan akan diberikan juga belum jelas arahnya. Apakah melayani kawasan Rempang-Galang atau Batam.

Menurut Irwansyah, jika alirannya ke Batam, maka akan menelan biaya yang besar. Karena proyek strategis tersebut belum didukung dengan instalasi pipa. Disamping itu, juga perlu dibangun Water Treatment Plant (WTP). Sebaliknya, jika dialirkan ke kawasan Rempang-Galang juga akan menimbulkan persoalan lain. Selain belum didukung dengan pipa, juga akan terkendala dengan persoalan lahan.

“Kita ketahui bersama, Rempang-Galang saat ini statusnya quo. Persoalan inilah, yang seharusnya di dorong Menteri PUPR. Sehingga Rempang-Galang memberikan manfaat bagi pembangunan Batam kedepan,” tegas Irwansyah.

Lebih lanjut katanya, pembangunan Dam Tembesi, Batam sampai saat ini juga belum terlihat kontribusinya. Padahal rencananya adalah untuk memenuhi ke butuhan air bagi kawasan Batam. Ia melihat, rencana pembangunan terkait kebutuhan air bersih di Batam selalu tidak didukung dengan instalasi perpipaan.

“Misalnya, tahun ini infrastruktur utamanya selesai. Tetapi pembangunan instalasi pipa masih belum jelas kapan dilakukan. Artinya, masih butuh waktu yang lama,” papar Irwansyah.

Mantan Legislator DPRD Batam tersebut juga mengkritisi terkait keberadaan Jembatan Barelang. Tujuan awal diwujudkannya mega proyek tersebut adalah untuk mempercepat pembangunan Batam. Ironisnya, saat ini Jembatan Barelang hanya menjadi simbol daerah. Sementara belum memberikan kontribusi yang besar bagi daerah.(jpg)