Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, Donni Muksydayan (Tengah) sedang melakukan pemeriksaan daging beberapa waktu lalu, Senin (22/7) F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, Donni Muksydayan mengatakan terkait pemeriksaan hewan kurban khusus sapi, sebelum hewan sampai ke Tanjungpinang, pihaknya juga mewajibkan hewan kurban harus bebas dari penyakit menular dari daerah asalnya.

“Salah satu yang kita antisipasi adalah sapi harus bebas dari penyakit Bruselosis dan bebas dari penyakit Jembrana,” kata Donni.

Dikatakan Donni, agar terbebas dari penyakit menular itu harus dibuktikan dengan bukti uji labolatorium dari daerah asal sebagai syarat memperoleh izin dari kantor karantina daerah asal hewan.

“Begitu sapi sampai di Tanjungpinang akan kembali diuji sampel darahnya, kemudian diperiksa di lab (labolatorium, red) itu sudah dilakukan beberapa bulan sebelum hari raya sebab banyak sapi yang sudah didatangkan untuk digemukkan,” ujarnya.

Pedagang hewan kurban di Kilometer 8 Atas, Senin (22/7). F.Peri Irawan / Batam Pos

Selain membentuk tim, balai karantina biasanya bersama Dinas Peternakan Provinsi dan Kota dan Kesehatan hewan kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan pemeriksaan kemudian kembali dilakukan pemeriksaan sebelum sapinya di potong.

“Setelah dinyatakan sehat baru disampaikan kepada panitia boleh dipotong,” sebutnya.

Kemudian setelah dipotong kembali diperiksa oleh petugas terlebih pada jeroan-jeroan atau isi perut karena akan tertanda dengan jelas jika ada penyakit dan itu terus dilakukan setiap tahunnya.

Pedagang hewan kurban di Kilometer 8 Atas, Senin (22/7). F.Peri Irawan / Batam Pos

“Kita jamin semua hewan kurban di Tanjungpinang sehat, karena hingga hari ini masih terbebas dari penyakit menular itu, dan belum ada ditemukan,” kata Donni.

Terkait pengawasan lalu lintas sapi yang masuk ke Tanjungpinang saat ini masih berkoordinasi dengan pedagang yang mendatangkan sapi ke Tanjungpinang dan Bintan dan semua itu sudah didata, tidak ada yang mendatangkan sapi di luar pengawasan pihaknya.

“Termasuk wilayah dari daerah mana sapi didatangkan seperti Lampung, Padang, Jambi, Pekanbaru semua sudah melalui karantina, tidak ada yang di luar pemeriksaaan kami dan pelabuhannya juga khusus, tidak semua pelabuhan bisa bongkar sapi,” imbuhnya.

Pedagang hewan kurban di Kilometer 8 Atas, Senin (22/7). F.Peri Irawan / Batam Pos

Dikatakannya jika ditemukan hewan yang memiliki penyakit menular itu maka pihak karantina akan menolak hewan itu untuk didatangkan dari daerah asalnya, itu sudah pernah dilakukan bahkan pada bulan Mei 2019 dari daerah Kualatungkal Jambi terdapat empat ekor sapi yang terjangkit penyakit Jembrana.

“Saat diperiksa karantina Jambi dan positif terkena penyakit Jembrana, maka sapi yang sudah dinaikkan ke kapal diturunkan kembali,” tutur Donni.

Sebelumnya daerah-daerah yang akan mengirimkan hewan kurban ke Tanjungpinang juga sudah mengetahui syarat agar hewan kurban bisa didatangkan ke Tanjungpinang.

“Salah satunya yaitu harus periksa lab,” tegasnya. (cr2)