Kondisi tiang penyangga Jembatan II Dompak yang mulai keropos karena korosi terancam roboh. F.Yusnadi Nazar / Batam Pos

PRO PINANG – Kondisi Jembatan II Dompak, Tanjungpinang kian memprihantikan. Pasalnya 85 persen tiang utama penyengga jembatan yang dari baja tersebut sudah keropos termakan korosi erosi. Mengingat besarnya biaya perbaikan infrastruktur vital tersebut, Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri masih menunggu keputusan strategis dari Plt Gubernur Kepri, Isdianto.

“Dari pengecekan kita di lapangan, kerusakkan pada tiang utama Jembatan II Dompak hampir 85 persen mengalami korosi erosi. Tentu perlu waktu dan biaya untuk membuat kehandalan jembatan tersebut kembali seperti semula,” ujar Kepala Bidang Bina Marga, Dinas PUPP Provinsi Kepri, Hendrija, Rabu (7/8).

Mantan Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas PU Provinsi Kepri tersebut menjelaskan, pihaknya akan meminta dukungan dari Kementerian PUPR untuk menyelesaikan persoalan ini. Karena persoalan anggaran menjadi salah satu kunci perbaiki kerusakkan yang terjadi. Menurut Hendrija, Plt Gubernur Kepri, Isdianto sudah mendapatkan laporan terkait masalah ini. Namun untuk penjelasan secara detail, pihaknya masih belum bertemu.

Kondisi tiang penyangga Jembatan II Dompak yang mulai keropos karena korosi terancam roboh. F.Yusnadi Nazar / Batam Pos

“Tentu kita bahas terlebih dahulu bersama Kepala Dinas PUPP Provinsi Kepri, kemudian baru disampaikan ke Plt Gubernur. Kita sudah menyiapkan beberapa opsi untuk memperbaiki kerusakkan tersebut. Kebijakkan seperti apa, terpulang kepada Plt Gubernur. Karena infrastruktur jembatan adalah kebutuhan vital bagi aktivitas masyarakat, pemerintahan dan kampus di Pulau Dompak,” jelas Hendrija.

Lebih lanjut katanya, kebijakkan ditutupnya sementara Jembatan II Dompak tersebut tentu pertimbangannya adalah aspek keselamatan. Artinya, mencegah lebih baik sebelum terjadinya korban jiwa. Apalagi beberapa waktu lalu, Jembatan ini juga sempat ditabrak KMP Lome pada Desember 2014 lalu. Ditambahkannya, besok (hari ini,red) pihaknya akan kembali turun ke lapangan untuk mengecek kondisi kerusakkan.

“Memang kalau kita lihat, keropos yang terjadi disebabkan oleh korosi erosi,” tegas Hendrija.

Legislator Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua. F.Istimewa

Sementara itu, Legislator DPRD Kepri utusan Tanjungpinang, Rudy Chua mengatakan, beruntung keroposnya Jembatan II Dompak tersebut cepat diketahui. Ia sangat menyayangkan Dinas PUPP yang bertanggungjawab terkait infrastruktur ini tidak melakukan pengecekkan secara berkala.

Menurutnya, jika kegiatan tersebut dilakukan, tentu ada langkah-langkah antisipasi lebih cepat yang bisa dilakukan. Ditegaskannya, melihat kerusakkan yang terjadi membutuhkan waktu lama dan biaya yang cukup besar tentunya.

“Sekarang ini masih dalam tahap penyusunan APBD Perubahan. Tentu perlu atensi segera, sehingga proses perbaikan tak menunggu lama. Kita juga beruntung, karena akses tidak terputus dengan adanya Jembatan I Dompak,” ujar Rudy Chua.

Politisi Partai Hanura tersebut juga mengatakan, ditutupnya Jembatan II Dompak ini, juga menimbulkan persoalan baru. Yakni macet panjang yang terjadi di ruas jembatan dan jalan depan Mall Ramayana ketika pegawai Pemprov pulang kerja. Ia mendesak PUPP Provinsi Kepri untuk melakukan pengecekkan secara detail. Apakah erosi yang terjadi pada tiang jembatan, karena disebabkan oleh kadar air laut ataupun karena spesifikasi konstruksi yang digunakan.

“Karena umur Jembatan II Dompak, Tanjungpinang tersebut baru sekitar 11 tahun. Biasa kontruksi Jembatan seperti itu tahan puluhan tahun,” tegas Wakil Rakyat yang duduk di Komisi II DPRD Provinsi Kepri tersebut.

Kondisi tiang penyangga Jembatan II Dompak yang mulai keropos karena korosi terancam roboh. F.Yusnadi Nazar / Batam Pos

Seperti diketahui, karena dihantam angin kencang, KMP Lome menabrak Jembatan Hang Lekir atau Jembatan II Dompak saat akan bersandar di Pelabuhran Roll On Roll Off (Roro) di Pelabuhan ASDP Tanjungmoco, Dompak, sekitar pukul 07.15 WIB. Kejadian tersebut membuat sebagian badan jembatan menjadi renggang. Bahkan sejumlah tiang jembatan patah. Pembangunan jembatan tersebut dimulai pada 2007 lalu.

Sistem pembangunan menggunakan program multi years. Ada beberapa pembangunan strategis, yakni Kantor Gubernur, Gedung DPRD Kepri, Masjid, Jembatan Dompak (I,II, dan III) dan stadion olahraga. Adapun kebutuhan anggarannya adalah sekitar Rp1,6 triliun.

Pembangunan tersebut digarap oleh PT. Nindya Karya. Namun pada perjalanannya, perusahaan Badan Usaha Milik Nasional (BUMN) tersebut tidak mampu menuntaskan tanggungjawabnya. Karena hanya Jembatan II dan III yang mampu selesaikan. Sedangkan jembatan I menimbulkan persoalan hukum di meja pengadilan. (jpg)