Gedung PN Tanjungpinang di jalan Ahmad Yani Tanjungpinang. F.Yusnadi / Batam Pos

PRO PINANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, meminta aparat penegak hukum menindak agen “nakal” penjual solar subsidi. Hal tersebut sesuai fakta persidangan dan keterangan saksi dalam kasus pelansir solar subsidi dengan terdakwa Padri.

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi, salah seorang saksi yang bekerja sebagai nelayan yakni Sahrul mengatakan, dirinya meminta tolong kepada terdakwa untuk membelikan 35 liter solar untuk pompongnya dengan harga Rp 200 ribu. Hal tersebut ia lakukan karena agen penjual solar di daerahnya hanya menjual solar kepada nelayan besar.



“Minyak solar sulit didapat. Dua kali saya meminta terdakwa untuk membelikan solar karena agen solar tidak mau menjual solar ke nelayan kecil seperti saya,” ungkap saksi di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Rabu (14/8).

Mendengar keterangan saksi, hakim ketua Eduart Sihaloho meminta pihak kepolisian, untuk mengusut tuntas agen agen penjual solar yang dinilai nakal.

“Ini fakta persidangan. Pihak kepolisian segera usut dan tindaklanjuti,” kata hakim.

Penasihat hukum terdakwa, Ratna Zuhaira juga meminta kepada pihak berwajib untuk tidak tebang pilih dalam mengusut suatu kasus.

“Jangan orang kecil saja yang diusut, sementara agen besar yang bermain masih berkeliaran,” katanya.

Penasihat hukum terdakwa juga memohon kepada majelis hakim untuk memberikan penangguhan penahan terhadap terdakwa, sebab terdakwa sedang sakit dan butuh perawatan medis.

Seperti diketahui, Polres Bintan mengamankan enam unit mobil modifikasi pelansir solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kijang Kecamatan Bintan Timur, pada November 2018 lalu.

Polisi menyita barang bukti 14 jeriken, satu drum besar, tali serta corong. Dalam proses penyidikan, polisi menetapkan enam orang tersangka yakni Padri, 45, Kristiwanto, 48,  Nurben, 62, Azman Dobo, 49, Abdul Azis, 48 dan Ismaun, 52. (odi)

Loading...