Plt Gubernur Kepri, H Isdianto. F.Humas Pemprov Kepri untuk Batam Pos

PRO PINANG – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Kepri, Isdianto lebih memilih memperlebar jalan Simpang Ramayana, Tanjungpinang ketimbang membangun jalan layang (fly over). Meskipun Detail Engineering Design (DED) sudah tuntas dibuat Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri pada 2017 lalu. Menurut Isdianto, pekerjaan strategis tersebut akan digesa lewat APBD Provinsi Kepri 2020 mendatang.

“Saya pikir untuk tahap awal ini adalah memperlebar jalan rayanya saja. Jembatan yang ada di Simpang Ramayana akan kita ratakan menjadi jalan,” ujar Isdianto menjawab pertanyaan media si Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang, Jumat (30/8).

Pria yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Kepri tersebut menjelaskan, saat ini Dinas PUPP Provinsi Kepri sedang mengkaji untuk pelebaran jalan tersebut. Lebih lanjut katanya, kegiatan yang akan dilakukan nanti adalah mensinkronkan Jalan Basuki Rahmat ke Jalan HM. Sani atau jalan menuju Jembatan I Dompak, Tanjungpinang. Ia yakin, dengan pembangunan itu nanti dapat menjawab persoalan kemacetan yang terjadi sekarang ini.

“Sekarang ini sedang dihitung kebutuhan pembangunan tersebut. Kedepan jika memang, membutuhkan jembatan layang dilokasi tersebut akan kita kaji kembali sesuai dengan tuntutan perkembangan daerah,” jelas Isdianto.

Belum lama ini, Wakil Ketua DPRD Kota Tanjungpinang, Ade Angga mendesak Pemprov Kepri untuk membangun jalan layang (fly over) di Simpang Ramayana, Tanjungpinang. Menurut politisi Partai Golkar tersebut, gaung pembangunan infrastruktur tersebut sudah ada sejak 2016 lalu. Namun sampai saat ini, belum terealiasi. Dijelaskannya, seandainya infrastruktur tersebut dibangun beberapa tahun lalu, tentu kemacetan tak akan terjadi.

“Rusaknya Jembatan II Dompak, baru kita dihadapkan pada rekayasa lalu lintas di lokasi tersebut. Simpang Ramayana adalah merupakan Jalan Provinsi, tentu ini harus menjadi atensi bagi Pemprov Kepri kedepan,” ujar Ade Angga.

Pria yang menjabat sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Tanjungpinang tersebut memaparkan, kehadiran infrastruktur tersebut bukan hanya berperan sebagai pengurai kemacetan. Namun juga punya nilai estetika perkotaan. Karena beberapa beberapa waktu lalu, terjadi kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan nyawa melayang. Atas dasar itulah, pihaknya berharap Pemprov Kepri memberikan atensi, sehingga infrastruktur strategis tersebut dapat direaliasikan.

Mantan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Kepri itu menyebutkan, dari informasi yang pihaknya terima, Pemprov Kepri sudah menuntaskan detail engineering design (DED) pada 2016 lalu. Lebih lanjut katanya, jika memang ada persoalan tentu bisa disinergikan dengan Pemko Tanjungpinang.  “Kondisi sekarang ini, seharusnya menyadarkan kita bahwa lokasi tersebut membuka jalan layang. Tanjungpinang terus menunjukan perkembangan, tentu harus dijawab dengan berbagai infrastruktur penunjang,” tutup Ade Angga.

Sementara itu, dari informasi yang didapat di internal Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, DED Fly Over tersebut sudah tuntas di 2017 lalu. Adapun biaya pembuatan DED tersebut sebesar Rp900 juta. Sedangkan kebutuhan anggaran pembangunan jembatan layang diperkirakan sebesar Rp40 miliar. Adapun kendala pada waktu itu adalah tingginya ganti rugi yang diminta pemilik ruko yang berada di depan Ramayana.(jpg)