Plt Gubernur Kepri, H Isdianto. F.Humas Pemprov Kepri untuk Batam Pos

PRO PINANG – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Kepri, Isdianto mengklaim Detail Engineering Design (DED) Jembatan Batam-Bintan (Babin) sudah rampung digarap Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera). Mengenai hal ini, pekan depan ia akan melakukan koordinasi langsung ke Kementerian.

“Laporan yang saya terima DED sudah selesai. Namun untuk pastinya, akan kita komunikaskan lagi ke Kementerian PU,” ujar Isdianto menjawab pertanyaan media usai menghadiri pelantikan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang di Kantor DPRD Kota Tanjungpinang, Senin (2/9).

Disinggung mengenai studi kelayakan investasi belum tuntas, sehingga infrastruktur tersebut dipastikan gagal terlaksana di 2020 mendatang? Mengenai hal itu, Isdianto tetap optimis Jembatan Babin akan tetap dibangun. Karena sudah masuk dalam rencana strategis presiden 2020-2024. Menurutnya, Jembatan Babin nanti memegang peran strategis bagi arah pembangunan Kepri kedepan.

“Karena sudah menjadi komitmen Presiden, tentu akan kita kawal terus. Apalagi Jembatan Babin adalah mimpi besar Kepri sejak lama,” tegas Isdianto.

Belum lama ini, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah IV Jambi-Kepri Kemen PUPR Budi Harimawan mengatakan, sampai saat ini feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) Jembatan Batam Bintan (Babin) masih belum rampung dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sehingga anggaran untuk infrastruktur strategis tersebut tipis harapan masuk dalam struktur APBN 2020 mendatang.

“Kementerian PUPR sedang menggesa penyelesaian uji kelayakan investasi Jembatan Babin. Dan ini perlu waktu, sehingga kecil kemungkinan kebutuhan anggaran pembangunan masuk di Kementerian PUPR tahun depan,” ujar  Budi Harimawan.

Dijelaskannya, untuk sampai ke tahapan pengalokasian angggaran tentunya masih membutuhkan proses yang panjang. Adapun penyempurnaan studi kelayakan jembatan itu, ditargetkan baru akan rampung di akhir 2019 ini. Selanjutnya masuk dalam tahapan penyusunan Detail Engineering Design (DED). Menurutnya, untuk penyusunan DED tersebut lanjutnya, juga masih perlu dilakukan pembahasan lebih lanjut. Apakah anggaran untuk penyusunan DED itu akan masuk dalam pagu anggaran APBN atau APBD.

“Setelah rampung, selanjutnya DED dibawa ke Komite Keselamatan Jalan dan Jembatan (KKJTJ). Karena jembatan Babin ini merupakan jenis jembatan panjang. Sehingga untuk pembangunannya perlu mendapat rekomendasi dari KKJTJ,” jelasnya.

Budi juga menambahkan, dalam proses penganggarannya nanti, mereka juga merasa perlu untuk melibatkan pihak lain. Karena, estimasi anggaran untuk pembangunan jembatan itu angkanya tergolong cukup besar. Dikatakannya, bagaimana kebijakkan tentang anggaran pembangunan Jembatan Babin nanti tergantung pada hasil studi kelayakan. Meskipun demikian, jika mengandalkan APBN secara keseluruhan rasanya cukup sulit.

“Semua tergantung pada uji kelayakan investasi. Apakah polanya sharing atau melibatkan pihak lain, misalnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kita menunggu hasil studi kelayakan rampung, baru akan diputuskan arah kebijakkanya seperti apa,” tutup Budi.(jpg)