Foto bersama usai rapat koordinasi Tim Sinergi Kepri dengan stakeholder di Hotel Aston Tanjungpinang, Kamis (19/9). F.Pemprov Kepri untuk Batam Pos

PRO PINANG – Keterampilan dan kreativitas masyarakat desa di Kepri sangat luar biasa. Hanya saja hasil keterampilan mereka tidak didukung sarana dan prasarana, sehingga untuk mempromosikan dan memasarkan hasil usahanya masih kesulitan.

Hal itu terungkap dari pertemuan hari kedua Tim Sinergi Kepri dengan stakeholder di Hotel Aston Tanjungpinang, Kamis (19/9).

Dalam rapat koordinasi yang dibuka staf ahli Gubernur Kepri Bagian Ekonomi dan pembangunan, Edi Sumbarjadi menyebutkan warga Desa di kabupaten dan kota di Kepri memiliki hasil pertanian yang beraneka ragam, serta hasil kerajinan yang berkualiatas baik peternakan yang tidak kalah dengan daerah lain.

“Beberapa desa di Karimun ada yang membuat kebun bunga dengan corak dan jenis yang menarik. Namun, bunga-bunga itu belum bisa menjadi penghasilan tambahan bagi warga, karena mereka tidak tahu harus memasarkannya ke mana,” ungkapnya.

“Semoga dengan dorongan tim sinergi dan perpustakaan daerah bisa membantu warga desa mempromosikan apa yang dihasilkan warga. Ini sesuai dengan tranformasi fungsi Perpustakaan yang juga mesti mengedukasi masyarakat sesuai dengan kebutuhan warga desa,” sebut Sandra Liza, Kabid Perlindungan anak Dinas P3AP2KB Provinsi Kepri yang juga tergabung dalam tim sinergi.

Sementara itu, Ketua Tim Sinergi Provinsi Kepri Yetriani menyebutkan Pemerintah Provinsi Kepri terus mendorong agar seluruh desa di Kepri memiliki perpustakaan desa hingga bisa difungsikan warga desa untuk menggali berbagai informasi dan tempat mengasah keterampilan.

“Kini setiap Desa mendapatkan Dana Desa (ADD) dari Pemerintah Pusat. Dalam aturannya penggunaannya bisa dialoaksikan sebagian untuk membangun atau memajukan perpustakaan desa,” jelasnya.

“Selain itu, pemerintah provinsi juga mendorong agar setiap kabupaten membuat Perbup tentang perpustakaan yang di dalamnya mengatur tentang perpustakaan Desa,” tambahnya.

Menurut Yetriani yang juga Kabid Pengembangan Perpustakaan, Deposit dan Pembudayaan Kegemaran Membaca di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, pihaknya mengumpulkan delapan para Kades dan pengelola perpustakaan desa yang dijadikan pilot projek oleh Perpustakaan Nasional.

“Kami undang empat desa ini untuk memaparkan kondisi perpustakan mereka dan perencanan kita ke depan,” ujarnya.

Delapan Desa yang dijadikan percontohan itu ada di Kabupaten Karimun, masing-masing Desa Tebias, Desa Lebuh, Desa Gemuruh dan Desa Pongkar. Sementara empat desa lainnya berada di Kabupaten Bintan masing-masing Desa Sebong Pereh, Desa Mantang Baru, Desa Toapaya, Desa Kuala Sempang.

Dari pemaparan program pengelola Perpustakaan Desa yang dijadikan pilot project oleh Perpustakaan Nasional, umumnya perpustakaan desa belum memiliki bagunan perpustakaan dan masih memanfaatkan balai desa.

“Tapi mereka sudah punya program-program yang baik agar minat masyarakat untuk datang terus meningkat. Perpustakaan Desa juga dijadikan tempat belajar mempromosikan ternak, tempat pelatihan berbagai kegiatan yang bisa meningkatkan produktivitas warga desa,” sebutnya.

Bahkan, Perpustakaan Desa di Toapaya, Bintan tahun lalu menjadi perpustakaan Desa terbaik nomor 4 di Indonesia.

“Artinya, Kepri sudah memiliki perpustakaan unggulan hingga desa yang ingin studi banding tidak perlu lagi harus ke luar daerah,” kata dia.

Diterangkan Yentriani, Perpustakaan Desa di Toapaya bisa maju karena kepala desa dan warga desa sangat memahami pentingnya perpustakaan tersebut untuk mengedukasi warganya.

“Tahun ini, Perpustakaan Desa Toapaya mendapatkan anggaran 200 juta yang dialoaksikan kadesnya dari ADD. Tapi program mereka memang sudah cukup baik dan sudah memiliki gedung sendiri,” ujarnya.

Sebenarnya, sebut Yentri, untuk memajukan perpustakaan, perlu komitmen dari kades dan dukungan dari pemerintah daerah. Di Perustakaan desa, masyarakat bisa belajar membuat kemasan barang dagangan menjadi menarik, mencari cara mempromosikan hasil pertanian termasuk mempromosikan ternak.

“Contohnya di Perpustakaan desa yang ada di Kuncur Barat, setelah peternak memanfaatkan promosi melalui layanan Perpustakaan Desa, peternak yang awalnya kesulitan menjual ternak ayam potongnya sebanyak 6 ribu ekor, setelah dipromosikan, ternaknya langsung habis terjual hingga memotivasi peternak lain untuk semakin giat belajar ternak ayam,” ungkapnya.

Tahun depan, Tim Sinergi akan terus mengembangkan pembangunan perpustakaan desa untuk beberapa daerah lain, seperti Lingga, Anambas, dan Natuna.(cca)