Legislator Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua.F.Istimewa

PRO PINANG – Legislator DPRD Provinsi Kepri, Rudy Chua mendesak Walikota Tanjungpinang, Syahrul untuk bertindak dalam menyelesaikan kebutuhan air bersih yang melanda sebagian daerah di Ibu Kota Provinsi Kepri. Menurut politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tersebut, langkah kongkrit adalah dengan memanfaatkan peran Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang. Karena kondisi Waduk semakin menipis.

“Kapasitas SWRO 50 liter perdetik atau mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi 4.000 rumah tangga. Infrastruktur tersebut memang dirancang sebagai solusi ketika terjadi kemarau,” ujar Rudy Chua, kemarin di Tanjungpinang.

Dijelaskannya, dari kuota 4.000 pipa yang terpasang sampai sekarang lebih kurang 400 rumah tangga. Apalagi pengelolaanya sudah ditangani Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) milik Pemko Tanjungpinang.

Lebih lanjut katanya, seperti diketahui, harga tarif SWRO adalah Rp19.500 permeter kubik atau bisa membeli lima tandon air bersih ukuran 1.000 liter. Sedangkan ukuran yang sama, di penjual air tangki adalah berkisar Rp70 ribu per 1.000 liter.

“Harus ada kebijakan yang dibuat, jangan biarkan masyarakat mengkonsumsi air yang sumbernya tidak jelas. Karena ada yang diambil dari kolam bekas tambang bauksit. Tentu ini akan beresiko menimbulkan penyakit,” tegas Rudi Chua.

Pembina Ikatan Tionghoa Muda (ITM) Provinsi Kepri tersebut juga menyarankan, jika memang Walikota merasa was-was untuk memberikan air SWRO kepada masyarakat secara gratis, tentu bisa berkoordinasi dengan kejaksaan. Karena kondisi sudah semakin darurat, bahkan keluhan masyarakat sudah berseliwiran di media sosial. Apalagi bagi masyarakat Kampung Bugis dan Senggarang. Ditegaskan Rudy, jika terus dibiarkan, maka persoalan akan semakin besar.

“Mengingat kondisi iklim dan geografis Kepri sekarang ini, SWRO adalah jawaban untuk jangka pendek dan situasi yang darurat. Mengingat sumber air yang digunakan tidak terbatas, karena menggunakan air laut yang ditawarkan,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri, Rodi Yantari mengatakan defisit air baku menjadi persoalan serius yang akan mengancam Pulau Bintan (Tanjungpinang-Bintan). Karena meskipun Waduk Kawal rampung natinya, persoalan air masih belum tuntas.

“Berdasarkan analisasi neraca air baku oleh Bali Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, pada 2016 lalu defisit air di Pulau Bintan adalah 211 liter perdetik,” ujar Rodi.

Masih kata Rodi, BWS memperkirakan apabila tidak ada embung atau waduk yang segera dibangun, maka pada 2020 mendatang defisit air baku di Pulau Bintan mencapai pada angka 948 liter perdetik. “Saat ini pembangunan embung Waduk Kawal dengan kapasitas sekitar 400 liter perdetik terus digesa. Infrastruktur tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2019 ini. Namun baru bisa memberikan kontribusi pada 2021 mendatang,” jelas Rodi.

Menurut Rodi, harapan jangka panjang untuk menuntaskan persoalan defisit air baku di Pulau Bintan hanya melalui Dam Busung, Bintan. Karena kawasan tersebut memiliki daerah tangkapan air sebesar 126 meter persegi. “Sedangkan debit andalannya adalah 4.000 liter perdetik. Adapun rencananya adalah 2.500 liter perdetik untuk kebutuhan Kota Batam. Sementara itu 1.500 untuk kebutuhan Pulau Bintan,” tutup Rodi Yantari.(jpg)

Loading...