Wakil Wali Kota Tanjungpinang, bersama Kepala DP3APM perlihatkan banner yang bertuliskan stop terhadap perempuan dan anak, Rabu (2/10). F.Peri Irawan /Batam Pos

PRO PINANG – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Tanjungpinang sediakan wadah konsultasi dalam penyelesaian masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kadis DP3APM Kota Tanjungpinang, Raja Khairani mengatakan saat ini masih enggan dan segan untuk melaporkan jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga baik ada pada istri ataupun anak-anak.

“Hari ini melalui perpanjangan tangan kita dari pihak kecamatan, lurah, tim medis, pihak kepolisian, forum RT RW, Karang Taruna, dan PKK, kita berikan sosialisasi,” ujarnya.

Saat ini Khairani menilai masyarakat tidak memiliki wadah untuk mengadu jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga tersebut,  selain itu masih banyak masyarakat yang takut identitasnya terbuka.

“Pada awalnya kita tangani sendiri untuk ke depan kita akan gunkan tenaga ahli di bidangny,” tuturnya.

Kemudian, saat ini dikantor DP3APM sudah menangani hal tersebut, cuma tidak semua masyarakat mau datang, dengan adanya wadah tersebut yang diberi nama Pojok Cinta.

“Artinya pojok adalah wadah atau tempat kemudian, Cinta itu kepanjangan dari Cermati, Identifikasi, Netral, Tanggal dan Aman,” ucapnya.

Khairani menambahkan, berangkat dari data kekerasan yang cenderung meningkat, maka wadah itu bisa menjadi solusi bagi masyarakat untuk melaporkan jika terjadi kekerasan dalam keluarganya.

“Saat ini pusat pelayanan terpadu Pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Nomor 17, Km 5,” paparnya.

Pada P2TP2A tersebut menyediakan pelayanan terpadu, yang meliputi pembimbing anak, pelayanan psikologis, bantuan hukum, serta rujukan medis, dan rumah aman.

“Pelayanan di P2TP2A ini diberikan secara gratis,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Rahma menyampaikan penandatanganan komitmen bersama itu merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam mengurangi kasus kekerasan dalam keluarga.

“Ini memang tidak mudah untuk mengungkap suatu kekerasan dalam rumah tangga, ┬ákarena bersifat individu dan tidak semua orang mau menyampaikan keluhannya, salah satunya karena faktor cinta dan sayang terhadap keluarganya,” kata Rahma.

Selama ini, kata Rahma upaya pemerintah sudah ada, namun saat ini lebih dikerucutkan melalui DP3APM.

“Jika diadili, maka saat ini kita ingin ada pendampingan sampai tuntas,” tutupnya. (cr2)

Loading...