Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul. F.Peri Irawan / Batam Pos.

PRO PINANG – Setahun kepemimpinan Wali Kota Tanjungpinang dan Wakilnya berjalan, tidak terlepas dari kritikan, salah satunya terkait seragam gratis yang terkesan lambat, kritikan tidak hanya datang dari masyarakat tapi juga Legislatif selaku pengawas pemerintahan.

Ketua DPRD Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni mengatakan secara pribadi menilai masih terdapat visi dan misi wali kota Tanjungpinang dan wakilnya pada saat kampanye belum terealisasi, seperti janji politik program baju seragam gratis yang belum terealisasi.

Tapi Weni mengatakan program itu pasti dan harus terealisasi, walaupun masa sekolah sudah berlangsung satu semester.

“Menurut pribadi saya bukan dari Dewan ini belum terealisasi, tapi kami berharap disegerakan seragam gratisnya,” ujar Weni saat ditemui di Kantor DPRD Kota Tanjungpinang, Jum’at (18/10).

Sempena peringatan hari ulang tahun otonom Tanjungpinang itu, Weni mengakui tugas lembaga Lesiglatif dan Eksekutif tidak mudah, namun seiring perkembangan dan berjalanya waktu dinamika juga semakin kompleks, namun mau tidak mau, suka tidak suka tentunya dapat menyesuaikan dengan dinamika itu.

“Artinya antara Legislatif dan Eksekutif, harus saling bekerjasama, karena dalam tindakan DPRD tugasnya adalah pengawasan, sinergitasnya harus nyambung,” ujarnya.

Weni berpesan, pada tahun 2020 segala sesuatu program perencanaan harap dipersiapkan sejak awal, sehingga seperti program baju gratis itu idealnya harus dibagikan sejak awal masuk sekolah karena itu janji politik Pilwako.

“Jika tidak terealisasi akan kembali mengkritik, menyapa pemko bagaimana realisasi janji politik itu,” ucapnya.

Kemudian Weni menuturkan tujuan dari DPRD itu adalah untuk kesejahteraan masyarakat, pihaknya menampung aspirasi masyarakat kemudian disampaikan kepada pemerintah itu tugasnya.

Ditempat berbeda, Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul mengatakan alasan program baju itu belum selesai karena pengadaan seragam gratis sedang tahap proses dipenjahitan.

Perlu diketahui jika program itu berhasil, itu merupakan pilot projek se Indonesia. Belum ada sebelumnya penjahitan baju yang mengandalkan penjait lokal.

“Seperti Bintan sudah tahun ketiga membeli seragam ke Jakarta kemudian dibagikan, sementara kami memiliki pikiran jika uang miliaran rupiah kalau bergerak di Tanjungpinang dapat membantu masyarakat, makanya prosesnya agak lama, tapi sudah jalan,” paparnya.

Dijelaskan Syarul pemenang tender pengadaan bahan baju seragam memang dari Makasar tapi penjahitanya di Tanjungpinang, m karena penjahit di Tanjungpinang tidak memiliki modal untuk pengadaan bahan dan itu dimenangkan oleh orang yang punya modal.

“Di sana pengadaan bahan saja, yang menjahit adalah orang kita, ada konsorsiumnya,” ungkapnya.

Ditargetkan November 2019 seragam baju gratis itu sudah bisa dibagikan, dikatakan Syahrul akan dibagikan seragam yang sudah selesai.

“Apa yang selesai lebih dulu kita bagikan, jika baju kurung siap akan kita bagikan, jika baju olahraga siap akan kita bagikan, nggak sekaligus karena proses penjahitan yang membutuhkan waktu,” tutupnya. (cr2)