ilustrasi

PRO PINANG – Unjuk rasa menggoyang pemerintahan Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri. Sejak Kamis (17/10) ribuan warga berdemonstrasi di jalanan utama ibu kota. Seiring berjalannya waktu, kekerasan mewarnai aksi protes.

Demonstran mengamuk karena pemerintah semena-mena merumuskan pajak baru. Salah satunya adalah pajak bulanan bagi para pemakai fitur panggilan suara pada aplikasi WhatsApp (WA). Kebijakan itu langsung dibatalkan begitu memicu reaksi negatif masyarakat. Tapi, rakyat yang muak dengan kinerja pemerintahan Hariri kadung marah. Mereka tetap turun ke jalan dan menuntut reformasi.

Sabtu (19/10) Christian Lebanese Forces Party angkat kaki dari pemerintahan Hariri. Koalisi pemerintah pun kini timpang.

”Kami yakin bahwa pemerintah tidak becus menyelamatkan situasi negara yang seperti ini,” ujar Ketua Christian Lebanese Forces Party Samir Geagea seperti dikutip Agence France-Presse.

Belakangan, demonstran semakin beringas. Mereka membakar ban-ban bekas dan menjadikannya barikade di ruas-ruas jalan utama. Rakyat menuntut pemerintahan yang mereka anggap korup itu diganti. Demikian juga segenap regulasi yang tidak prorakyat.

Demo anti pemerintah bergulir di Beirut sejak Kamis lalu. Tepatnya setelah pemerintah mengumumkan besaran pajak panggilan suara WA sebesar USD 0,2 atau setara Rp 2.830. Pajak itu tidak hanya berlaku untuk WA, tapi juga aplikasi lain yang punya layanan panggilan suara alias telepon.

Sebenarnya bara amarah muncul sejak Juli. Yakni, sejak parlemen merilis langkah-langkah penghematan. Rakyat merasa selalu menjadi objek. Semua regulasi menarget rakyat. Tapi, mereka yang duduk di pemerintahan seakan tidak kena langkah-langkah penghematan tersebut.

Saat ini utang Lebanon tercatat sebesar USD 86 miliar (sekitar Rp 1,2 kuadriliun). Itu setara 150 persen GDP-nya. Pertumbuhan ekonomi juga terpuruk. Mereka tak puas dengan kinerja pemerintah dan ingin semua sistem politik direformasi. Kemarin pagi massa memenuhi jalanan Beirut. ”Lebih baik menggelar pemilu lagi saja ketika penduduk sudah terjaga seperti ini,” ujar Ali, penduduk Beirut. (sha/c11/hep)