ilustrasi

PRO PINANG – Berita duka datang dari buruh migran Indonesia di luar negeri. Seorang warga negara Indonesia meninggal saat antre mengurus paspor di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Kamis malam (31/10). Berdasarkan informasi keluarga, korban memiliki riwayat penyakit jantung.

Direktur Migrant Care Anis Hidayah mendapat pesan duka dari Alex Ong, pengurus Migrant Care di Malaysia sekitar pukul 20.30. ”Saya buka dan baca pelan-pelan,” katanya saat dihubungi tadi malam.

Tertulis, seorang WNI bernama Tamam, warga Bawean, meninggal dunia di trotoar KBRI Kuala Lumpur saat mengantre mengurus paspor pukul 19.20 waktu setempat. ”Tamam memiliki riwayat jantung berdasarkan info dari keluarga,” imbuh Anis.

Plt Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah membenarkan kejadian tersebut. ”Almarhum juga sedang menjalani perawatan (rawat jalan) sakit jantung,” terangnya. Hasil pemeriksaan data, Tamam dan istrinya sudah mengantongi izin menetap dan tinggal (permanent resident) di Negeri Jiran. Bahkan, ketiga anaknya sudah menjadi warga negara Malaysia. Selama di sana, Tamam bekerja di sektor konstruksi.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu Judha Nugraha mengatakan, selama ini pelayanan di KBRI Kuala Lumpur memang dibuka 24 jam. Kebijakan tersebut dilakukan agar WNI yang datang dari luar kota untuk mengurus administrasi tidak terlantar bila sampai di Kuala Lumpur malam hari.

Nah, peristiwa tersebut terjadi saat pelayanan malam baru dibuka. Pelayanan malam dibuka setelah Maghrib. Tamam, kata Judha, berada di barisan depan untuk mengambil nomor layanan pembuatan paspor. Saat itu antrean belum terlalu banyak. ”Almarhum tiba-tiba lunglai, tidak sadarkan diri tergeletak. Tidak lama beliau menghembuskan nafas terakhirnya,” jelasnya.

Kemudian, KBRI Kuala Lumpur bergegas menghubungi polisi setempat dan keluarga. Berdasarkan data rekam medis yang disampaikan keluarga, polisi tidak melakukan otopsi dan langsung diserahkan kepada keluarga.  pagi, jenazah Tamam sudah dimakamkan di Pemakaman Islam Kuang, Sungai Buloh, Selangor, Malaysia.

Sementara itu, Anis menilai, antrian paspor di trotoar KBRI Kuala Lumpur memang sejak lama menggelisahkan. ”Bagaimana tidak? Sejak pukul 12.00 siang teman-teman buruh migran sudah harus mengambil antrean. Kemudian menunggu hingga larut malam untuk dapat nomor dan proses parspor hingga keesokan harinya,” urainya.

Banyak WNI yang datang dari jauh dan terpaksa menunggu di trotoar. Bisa dibayangkan angin malam menemani dan mengancam. Apalagi mereka yang datang seusai kerja dan lembur. Kepergian Tamam mestinya menjadi momentum dan bahan evaluasi Kemenlu, imigrasi dan KBRI Kuala Lumpur. ”Mengatur mekanisme antrean paspor yang lebih manusiawi. Ingat, diantara antrian itu juga banyak perempuan dengan usia senja,” tegas Anis. (han)