Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Kepri, Rahmad Iswanto. F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Rahmad Iswanto mengatakan perkembangan Ekspor Kepri Oktober 2019 mencapai US$ 1.139,08 juta atau mengalami kenaikan sebesar 3,25 persen dibanding ekspor September 2019.

“Barang-barang dari hasil industri dan pertanian kita ekspor ke luar negeri ada 3,25 persen,” kata Rahmad saat wawancara usai pemaparan data ekspor impor di Kantor BPS Kepri, Jum’at (15/11).

Jika dibandingkan bulan Oktober 2018, ekspor Kepri juga meningkat sebesar 3,8 persen.

Catatan ekspor Kepri yang meningkat pada bulan Oktober 2019 adalah dipengaruhi karena peningkatan volume ekspor sektor migas yang cukup tinggi yaitu 52,28 persen.

Meski demikian, lanjutnya menjelaskan ekspor migas tidak diikuti peningkatan aktivis ekspor non migas, bahkan mengalami penurunan sebesar 9,12 persen.

“Jadi peningkatan ekspor kita lebih dipengaruhi peningkatan ekspor migas,” paparnya.

Secara kumulatif dari Januari hingga Oktober perkembangan ekspor juga mengalami penurunan sebesar 2,74 persen yaitu dari US$ 10.582,82 juta menjadi US$ 10.292,81 juta yang disebabkan sektor non migas sebesar 10,08 persen.

“Malahan migas yang mengalami kenaikan sebesar 14 persen, ” sebutnya.

Saat ini ekspor terbanyak tujuan pertama adalah Negara Singapura, kemudian Amerika Serikat dan Malaysia.

Sedangkan untuk impor, Rahmad menjelaskan pada bulan Oktober 2019 nilai impor Kepri tercatat US$ 972,68 juta, artinya terjadi peningkatan sebesar 0,89 dibanding bulan September 2019.

“Jika dibandingkan dengan Oktober 2018 catatan impornya justru mengalami penurunan sebesar 3,24 persen.

Sedangkan secara kumulatif catatan impor juga mengalami penurunan sebesar 12,1 persen yang disebabkan impor migas turun sebesar 25 persen, dan impor non migas turun 8,95 persen.

“Bulan Oktober secara negara perdagangan di Kepri masih surplus sebesar US$ 166,93 juta, dan secara kumulatif Januari-Oktober 2019 neraca perdagangan juga surplus US$ 2,8 miliar.

Jadi devisa kita nambah pada aktivitas ekspor dan impor, ” ungkapnya.

Rahmad menjelaskan, kontribusi surplus neraca perdagangan di Kepri lebih didorong sektor migas dibanding non migas.

“Artinya sektor industri kita belum terlalu menggembirakan, itu perlu diingat,” tegasnya. (cr2)