BPTP Kepri menyelenggarakan Temu Lapang dan Bimbingan Teknis Teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) Cabai di Setokok, Kota Batam, Rabu (4/12/2019). Foto: BPTP Kepri untuk PRO PINANG

PRO PINANG – BPTP Kepulauan Riau (Kepri) menyelenggarakan Temu Lapang dan Bimbingan Teknis Teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga) Cabai di Setokok, Kota Batam, Rabu (4/12/2019).

Acara tersebut dilaksanakan di lahan milik Thomas atau Jajang, yang juga menjadi lokasi demoplot kegiatan Proliga tahun 2019.

Dari rilis yang diterima PRO PINANG, kegiatan tersebut bertujuan untuk menyebarluaskan hasil penerapan paket teknologi yang dikembangkan oleh Balitbangtan.

Yakni Teknologi Produksi Lipat Ganda Cabai atau biasa disebut Proliga Cabai. BPTP Kepri melihat pentingnya melakukan pendampingan inovasi teknologi produksi komoditas cabai di Kepri, khususnya wilayah Batam.

“Batam memiliki potensi tinggi untuk menjadi sentra produksi cabai,” kata Kepala BPTP Kepulauan Riau, Dr. Ir. Sugeng Widodo, M.P. saat menyampaikan evaluasi kegiatan 2019 dan rencana pelaksanaan kegiatan pendampingan cabai di Batam tahun 2020.

Kata dia, produksi dan produktivitas cabai di Batam yang masih rendah belum mampu memenuhi permintaan lokal. Sehingga pengembangan budidaya cabai untuk meningkatkan produktivitas masih sangat penting untuk dilakukan.

Teknologi Proliga lanjutnya, yang telah diterapkan di demoplot dan dilaksanakan oleh Kelompok Tani Maju Mandiri, diharapkan menjadi percontohan inti di area pengembangan cabai kota Batam.

Serta menjadi pusat referensi kelompok-kelompok tani yang berlokasi di kecamatan sekitar.

“Saat ini, teknologi Proliga sudah dikembangkan oleh 8 orang anggota kelompok,” paparnya.

Kata dia, dengan teknologi yang tepat, Kepri ditargetkan menjadi area mandiri cabai pada 5 tahun ke depan dan Batam mampu menyediakan sebanyak 8 hingga 10 persen dari total kebutuhan cabai di Kepri.

Pelaksanaan teknologi Proliga juga akan terus diperbaiki dan dikembangkan menjadi spesifik lokasi.

Identifikasi varietas cabai yang cocok dikembangkan, pengelolaan air dengan pembuatan sumur dangkal untuk penanaman di musim kering atau offseason.

Serta upaya perintisan kelembagaan petani untuk pemasaran cabai juga perlu dilakukan. Sementara itu, Eko Pujiono, dari DKPP Batam menyampaikan mengenai kegiatan strategis cabai di Kota Batam untuk 2020.

DKPP Batam kata dia, setuju dengan rencana pengembangan yang telah disampaikan Kepala BPTP Kepri.

Cabai merupakan salah satu komoditas yang menjadi fokus utama para penyuluh DKPP Batam.

Akan tetapi, pelaksanaan pengembangan oleh dinas banyak mengalami kendala. Kendala utama adalah status hukum lahan pertanian.

Mayoritas petani di Batam merupakan petani penggarap yang menyewa lahan, dengan term perjanjian yang kebanyakan belum jelas.

Kegiatan pengembangan kata dia, menjadi sulit mendapatkan pendanaan dari APBD karena terkendala syarat status kepemilikan lahan.

Jika ada regulasi tersendiri mengenai hal tersebut, maka pelaksanaan kegiatan pengembangan pertanian, khususnya cabai akan mendapat lebih banyak perhatian.

Selain penjelasan tersebut, BPTP Kepri juga mengundang narasumber dari BB Pascapanen untuk menyampaikan mengenai penanganan pascapanen cabai.

Dr. Ir. Siti Mariana Widayanti, M.Si. yang merupakan peneliti pascapanen, menjelaskan, pentingnya penanganan yang tepat untuk menjaga kualitas cabai yang akan dipasarkan.

Metode penyimpanan dan pengemasan dari tahap panen hingga sampai pasar menjadi perhatian utama.

Beliau menyarankan untuk tidak menggunakan wadah seperti plastik biasa maupun karung bekas pupuk untuk menampung cabai, melainkan memakai plastik berlubang atau krat plastik.

Beliau juga menyampaikan mengenai pentingnya pemilihan atau grading sebelum cabai dipasarkan.

Sementara itu, teknis budidaya proliga cabai disampaikan kepada petani oleh peneliti BPTP Kepri Annisa Dhienar A., S.P. beserta petani kooperator, Thomas.

Poin utama yang disampaikan adalah perlunya pemilihan varietas unggul yang cocok dengan kondisi lahan dan selera pasar.

Kemudian pengaturan pola tanam menjadi zigzag dan pemangkasan pucuk atas bibit untuk mengatur kondisi percabangan.

Serta pengendalian hama dan penyakit secara tepat, dan pemenuhan unsur hara melalui pemupukan yang cukup.

Acara itu dihadiri oleh Dr. Ir. Sugeng Widodo, M.P. (Kepala BPTP Kepulauan Riau), Dr. Ir. Siti Mariana Widayanti, M.Si. dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian/BB Pascapanen.

Kemudian Kabid Kelembagaan dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam /DKPP Batam, Emri Zuarnen, Kasie Penguatan SDM Petani dan Peternak DKPP Batam, Eko Pujiono, perwakilan penyuluh DKPP Batam, serta pengurus dan anggota kelompok tani Maju Mandiri dan beberapa kelompok tani di sekitarnya.(*)