Petugas memeriksa mobil barang pembawa komoditas pertanian dan hewan yang keluar dan masuk ke Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Rabu (11/12). F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Jelang Natal dan tahun baru 2020 Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Tanjungpinang menggelar operasi patuh di Pelabuhan ASDP Tanjung Uban, terhadap lalu lintas produk pertanian yang diprediksi akan meningkat.

Operasi patuh yang digelar selama satu hari ini melibatkan Polri, TNI AL, TNI AD dan instansi terkait lainnya ikut melakukan pemeriksaan seluruh truk barang.

Koordinator Pengawasan dan Penindakan (Wasdak) BKP, Khalid mengatakan operasi patuh itu menyasar pada komoditas pertanian yang datang ke Tanjungpinang menuju Batam maupun sebaliknya, dengan lalu lintas yang padat dikhawatirkan terjadi penyelundupan oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Petugas memeriksa mobil barang pembawa komoditas pertanian dan hewan yang keluar dan masuk ke Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Rabu (11/12). F.Peri Irawan / Batam Pos

“Operasi patuh ini dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengguna jasa karantina dan meningkatkan sinergitas antar instansi terkait,”kata Khalid di Pelabuhan ASDP Tanjung Uban, Rabu (11/12).

Dijelaskan Khalid, dengan seringnya dilakukan operasi patuh itu kesadaran masyarakat untuk melaporkan media pembawa kepada petugas di pintu pelabuhan penyeberangan maupun pada wilayah kerja lainnya juga semakin baik.

“Sehingga nantinya lalu lintas penyakit dari daerah yang sudah terkontaminasi pada media pembawa dapat terus dicegah,” ujarnya.

Dalam operasi itu, kata Khalid pihaknya tidak bisa bekerja sendirian, butuh kerjasama dengan para mitra lainnya untuk membangun melindungi wilayah Bintan pada khususnya, serta Kepri pada umumnya.

Petugas memeriksa mobil barang pembawa komoditas pertanian dan hewan yang keluar dan masuk ke Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Rabu (11/12). F.Peri Irawan / Batam Pos

Saat ini yang menjadi perhatian pihaknya adalah virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), karena negara-negara yang terdekat, sudah mulai terkena virus yang mematikan pada ternak babi tersebut.

“Ini yang menjadi konsentrasi serius kita, untuk menjaga agar tidak masuk ke Kepulauan Riau, karena pada negara terdekat sudah menimbulkan kematian ribuan ekor babi,” katanya.

Sejauh ini di Indonesia memang belum ada kasus seperti itu, sehingga pihaknya terus memperketat pengawasan di Pelabuhan dan Bandara. (cr2)