Salah satu pangkalan gas elpiji di Kampung Bugis Tanjungpinang, Jum’at (17/1). F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Usaha, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Tanjungpinang, Mohammad Endy Febri menjelaskan pada tahun 2020 tidak ada penambahan kuota gas elpiji untuk Tanjungpinang.

“Kuotanya masih sama dengan 2019 yaitu 6.435 metrik ton,” kata Endy, Jum’at (17/1).

Kata Endy, jika ada penambahan kuota elpiji kemasan tiga kilogram (Kg), itu menjadi wewenang PT Pertamina Regional Kepri untuk mengusulkan ke Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Pihaknya tidak ada wewenang.

“Kami tidak punya wewenang mengusulkan maupun menambah kuota tersebut,” ucapnya.

Berdasarkan pengalaman tahun 2019 lalu, kata Endy kuota elpiji kemasan tiga kg itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Tanjungpinang, dan itu merupakan program subsidi dari pemerintah yang di peruntukannya kepada masyarakat kelas bawah.

Sedangkan untuk masyarakat kelas menengah ke atas, ia mengimbau agar menggunakan elpiji kemasan lima kg dan 12 kg.

“Termasuk rumah makan menengah ke atas, namun untuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah ) tidak masalah menggunakan epliji subsidi,” paparnya.

Selain itu, pada tahun 2020 lebih meningkatkan pengawasan terhadap penyaluran elpiji bersubsidi pada ratusan pangkalan resmi penjual elpiji kemasan tiga kg supaya tepat sasaran.

“Kita khawatir ada pangkalan yang menjual gas elpiji subsidi ke pengusaha, sehingga warga tidak mendapat bagia,”tambahnya.

Kemudian, pihaknya memperketat pengawasan pangkalan bandel yang menjual elpiji subsidi di atas Harga Enceran Tertinggi (HET), karena pada tahun 2019 lalu terdapat tiga pangkalan gas elpiji yang diberi surat teguran karena menjual di atas HET.

“Saat harga elpiji kemasan tiga kg Rp18 ribu per tabung, panggalan menjual Rp19 ribu per tabung,”tuturnya. (cr2)