Sejumlah wisman yang datang ke Tanjungpinang dan Bintan menggunakan masker di Pelabuhan Internasional SBP Tanjungpinang, Kamis (30/1). F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Sektor pariwisata di Provinsi Kepri umumnya dan Bintan khususnya, yang terkait dengan kunjungan wisman Tiongkok seperti dihantam gempa tsunami. Tingkat hunian sejumlah hotel anjlok hingga sekitar 95 persen. Dan, ratusan orang daily worker (pekerja harian) dirumahkan.

Hal itu terjadi setelah merebaknya wabah coronavirus di Tiongkok dan larangan keluar Tiongkok sejak 24 Januari 2020. Renaldi Humas Bintan Agro Resort, menjelaskan hal itu kepada Batam Pos, Kamis (30/1).

Menurut Renaldi, sejumlah hotel tingkat huniannya anjlok dan sepi dari tamu. Seperti, di Bintan Agro Beach Resort dan Sahid Bintan Onbase Resort yang sekitar 95 persen tamunya adalah turis Tiongkok.

Begitu juga dengan beberapa hotel lainnya yang tamunya banyak dari Tiongkok. Seperti, Bintan Lagoon, Grand Lagoi dan Nirwarna.

Sejumlah hotel di Tanjungpinang pun ikut terdampak. Seperti, Hotel Aston dan CK Hotel.

Dampak wabah coronavirus di Tanjungpinang tak hanya penurunan tingkat hunian hotel. Tapi juga frekuensi kunjungan kapal feri dari dan ke Singapura.

“Jumlah frekuensi kapal feri Singapura – Tanjungpinang saat ini hanya 8 kali sehari. Sangat sedikit dibanding Singapura – Batam yang ratusan kali sehari,” kata Renaldi.

Ditambahkannya, kapal feri adalah infrastruktur terpenting kedatangan turis dari Singapura ke Tanjungpinang.

Sejumlah wisman yang datang ke Tanjungpinang dan Bintan menggunakan masker di Pelabuhan Internasional SBP Tanjungpinang, Kamis (30/1). F.Peri Irawan / Batam Pos

“Saat ini sekitar 70 persen penumpang kapal feri Tanjungpinang – Singapura pergi pulang, adalah turis Tiongkok.

Jika operator feri kehilangan tamu Tiongkok,  maka ongkos operasionalnya tidak mencukupi. Sehingga frekuensinya yang terpaksa dikurangi,” jelasnya.

Penurunan frekuensi kapal feri ini, imbuh Renaldi, akan menyulitkan dan mengurangi kenyaman turis dari Singapura ke Tanjungpinang. Dan, mereka berpeluang untuk pindah tujuan ke Johor, Malaysia.

“Kalau ini terjadi, akan sangat memukul bisnis pariwisata Tanjungpinang. Terutama hotel, restoran, transportasi dan toko-toko,” jelasnya.

Larangan tur keluar negeri dari pemerintah Tiongkok, diprediksi akan berlangsung sekitar enam bulan. Sama seperti saat wabah virus SARS terjadi beberapa waktu lalu.

Dampak negatif ini, jelasnya lagi, sudah berlangsung saat ini juga. Mengingat hal itu dan tenaga kerja yang ikut terdampak di Kepri. Maka, peran besar Pemda sangat diharapkan.

“Untuk mengambil kebijakan yang bisa membantu pengusaha dan tenaga kerja di bidang pariwisata. Seperti yang diambil pemerintah Thailand, Malaysia dan Singapura berupa kemudahan dari segi izin dan insentif perpajakan,” harap Renaldi. (cca)