Pengamat Politik Kepri, Zamzami A Karim.F.Dokumen Pribadi untuk Batam Pos

PRO PINANG – Pemerhati Politik Provinsi Kepri, Zamzami A Karim mengatakan Dewi Ansar dan Marlin Rudi yang sama-sama menyandang istri bos partai politik (Parpol) sangat terbuka peluang dipinang sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Kepri pada Pimilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kepri nanti. Karena nama besar Ansar Ahamad dan Muhammad Rudi akan memberikan pengaruh bagi Calon Gubernur (Cawagub) untuk mencari pendamping.

“Peluang ini bisa saja terjadi, dengan catatan Pak Ansar dan Pak Rudi tidak menjadi sebagai kandidat maju bertarung pada Pilkada nanti. Artinya tergantung intensitas mereka dalam aktifitas politik praktis. Boleh dikatakan sebagai keputusan politik alternatif, karena parpol saat ini mengalami krisis kader, “ujar Zamzami A Karim, Kamis (6/2) di Tanjungpinang.

Dijelaskannya, Dewi Ansar sudah sangat intensif, apalagi dua periode ikut dalam kontestasi politik di legislatif. Artinya selain mengandalkan pengaruh nama besar suaminya yang merupakan Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Kepri, posisinya sebagai Wakil Ketua I DPRD Kepri juga memberikan nilai plus tersendiri. Sehingga peluangnya jauh lebih kuat, apabila dibandingkan Marlin Rudi yang dari segi pengalaman praktis politik termasuk ikut dalam kompetisi politik masih minim.

“Marlin itu kan berharap ada kontribusi pengaruh suaminya yang Walikota Batam dan kandidat Ketua Partai NasDem Provinsi Kepri. Sedangkan Dewi selain ada pengaruh Ansar, tapi beliau juga sudah terlibat politik praktis dan ikut dua kali dalam kontestasi politik dan aktif di parpol. Di atas kertas, Dewi memiliki dua keunggulan itu, “jelas Zamzami.

Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Raja Haji Tanjungpinang tersebut juga mengatakan, Golkar dan NasDem adalah dua partai penguasa yang duduk di DPRD Provinsi Kepri saat ini. Sejauh ini, nama spanduk Marlin Rudi memang sudah terlihat bertebaran di daerah-daerah. Sedangkan untuk Dewi Ansar masih belum terlihat. Menurutnya, posisi Cawagub dalam memberi kontribusi elektabilitas sekedar menambah atau mengurangi.

“Kalau Cagubnya cukup kuat elektabilitasnya, maka cawagub menambah kekuatan saja. Maka untuk Dewi dan Marlin kalau posisi Cawagub fungsinya nggak terlalu berbeda. Namun secara peluang Cawagub juga para parameter tersendiri dalam menentukan pasangan,” jelasnya lagi.

  • Parpol Penguasa Krisis Kader

Sementara itu, Zamzami juga menyoroti tentang pergerakn sejumlah Partai Politik (Parpol) dalam menyosong Pilkada Kepri yang akan berlangsung pada 23 September 2020 mendatang. Karena parpol di Kepri masih terlalu bergantung pada tokoh-tokoh senior sehingga proses kaderisasi tidak berjalan baik. Zamzami mengungkapkan hal ini setelah melihat dan mencermati nama-nama calon yang akan maju dalam pemilu Kepala Daerah serentak 2020 Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri.

“Tidak ada kader partai yang menonjol untuk menggantikan seniornya selama ini. Bahkan minimnya kaderisasi di parpol ini sudah terjadi sejak pada pilkada lalu, “ujarnya, kemarin.

Minimnya kaderisasi dialami hampir semua partai, termasuk partai-partai besar seperti PDI Perjuangan Kepri, Partai Golkar. Sebagai contoh, PDI Perjuangan dalam Pilgub Kepri nanti, masih tetap mengandalkan atau mengusung Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri Soerya Respationo yang notabene merupakan tokoh senior. Karena PDI Perjuangan Kepri belum ada keberanian untuk memunculkan kader lainnya. Padahal di Tanjungpinang ada Lis Darmansyah, di Batam ada Jumaga Nadeak dan adik kandung Soerya untuk bertarung pada Pilgub Kepri nantinya.

Begitu juga dengan Partai Golkar Kepri, dimana pada pilgub Kepri, masih menonjolkan dan berharap pada satu nama yakni Ansar Ahmad. Padahal kader Golkar Kepri lainnya yang bisa ditonjolkan dan bisa diusulkan untuk maju pada pilkada Kepri ini ada nama Taba Iskandar, selain itu ada nama lainnya yakni Rizky Faisal.

“Golkar untuk regenerasi juga mengalami stagnan. Belum bisa mengorbitkan kader yang potensial, yang bisa mensejajarkan diri dengan nama besar Ansar Ahmad, “jelasnya.

Partai besar lainnya seperti Demokrat dan Nasdem juga belum berani memunculkan kader-kadernya. Demokrat, saat ini masih juga bertumpu pada sosok Apri Sujadi yang saat ini menjabat sebagai Bupati Bintan. Pada pendapatnya, sosok Apri Sujadi juga belum mampu untuk berkibar di tingkat provinsi atau maju untuk diusung sebagai Cagub Kepri.  Sementara, Nasdem memiliki nama besar Rudi, namun sepertinya sosok itu masih lebih memilih di Pilkada Kota Batam untuk meneruskan ke periode berikutnya.

“Secara keseluruhan di Nasdem Kepri juga untuk kaderisasi masih sangat terbatas, hanya nama-nama lama saja yang muncul dan belum mampu untuk tampil di tingkat provinsi atau calon gubernur, “jelasnya lagi.

Sementara partai lainnya seperti PPP, PKB, Hanura, PKS dan lainnya masih jauh untuk regenerasi kader. Bahkan menurut Zamzami kader di partai-partai lain tidak ada nama besar yang bisa diusung sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur. “Seharusnya sudah sejak 5 atau 10 tahun lalu, kaderisasi di partai-partai sudah dilakukan dengan serius. Sehingga pada saat menjelang pilkada, pileg dan lainnya bisa muncul namanya ke publik dan bisa lebih dikenal masyarakat, “tutup Zamzami. (jpg)