Ketua Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Provinsi Kepri yang juga Anggota DPRD Kepri dari Fraksi Golkar, Taba Iskandar. F.Dokumen pribadi untuk Batam Pos

PRO PINANG – Partai Golongan Karya (Golkar) akan mencari sosok pengganti Ansar Ahmad sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Provinsi Kepri lewat Musyawarah Daerah (Musda) yang akan digelar pada 2 Maret 2020 mendatang. Ketua Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) 1957 Provinsi Kepri, Taba Iskandar mengatakan, nafas organisasi yang harus dijaga adalah kaderisasi.

“Kaderisasi adalah kunci bagi menjaga eksistensi Partai Golkar. Musda yang akan digelar pada 2-4 Maret 2020 di Natuna nanti adalah momentum yang tepat untuk memberikan ruang Partai Golkar Kepri mencari kader yang layak memimpin Golkar Kepri kedepan, “ujar Taba Iskandar, Kamis (20/2).

Menurut Taba, Kosgoro 1957 Provinsi Kepri adalah merupakan salah satu organisasi dari Tri Karya yang diawalnya ikut membidani lahirnya Partai Golkar. Sebagai peserta Musda tentunya Kosgoro 1957 memiliki harapan yang besar bagi kemajuan dan kejayaan Partai Golkar Provinsi Kepri. Dijelaskannya, dengan sistem multi partai serta dinamika yang sangat cepat berkembang seperti sekarang ini, tentunya tantangan bagi Partai Golkar tidaklah ringan dan mudah. Dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas serta soliditas dalam memperjuangkan kepentingan kemasyarakatan yang nantinya diharapkan dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan serta permasalahan ketersediaan lapangan kerjaan dan lain sebagainya yang benar-benar dapat dirasakan oleh masyaraka.

“Dengan inilah baru kita dapat memenangkan hati rakyat. Musda Partai Golkar adalah merupakan forum tertinggi didalam mengambil keputusan Partai untuk 5 (lima) tahun perjalanan Partai kedepan, diforum tersebut dibuat program kerja dan Pemilihan Ketua Partai serta Kepengurusan DPD Partai Golkar Propinsi Kepulauan Riau, “jelasnya.

Terpisah, Sekretaris PDK Kosgoro 1957 Sudirman mengatakan, dalam menghadapi tantangan kedepannya diharapkan pada Musda nanti melahirkan figur-figur yang memiliki kualitas dan itegritas untuk memimpin Partai Golkar Kepri seperti yang telah dicapai sebelumnya oleh Ansar Ahmad yang telah sudah menjabat selama 3 (tiga) periode. Sehingga sudah sewajarnya tidak lagi maju kembali agar tidak membunuh demokrasi yang ada pada Partai Golkar.

“Regenerasi dan kaderisasi di Partai Golkar harus berjalan maka diharapkan calon pengganti beliau memang benar–benar berintegritas, loyal dan siap membesarkan partai kedepannya, “ujar Sudirman, kemarin.

Berbicara kandidat Calon Ketua Golkar Provinsi Kepri, menurutnya yang berhak menjadi Calon Ketua adalah kader tulen yang telah teruji dan aktif minimal 5 (lima) tahun dalam kepengurusan di semua tingkatan baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota Partai Golkar. Partai Golkar merupakan Partai Senior yang berpengalaman yang menjadi tumpuan dan harapan masyarakat dalam membela kepentingan masyarakat terutama masyarakat di Provinsi Kepulauan Riau.

Pria yang akrab disapa Bang Dirman tersebut menambahkan, sebagai bukti Partai Golkar di Provinsi Kepri tidak kekurangan kader dalam mengemban amanah untuk melanjutkan kepemimpinan Ansar Ahmad, ada beberapa kader yang dinilai piawai dan mampu. Mereka adalah Rizki Faisal, Ruslan M. Ali Wasyim, Ade Angga, Aunur Rafiq, Ngesti Yuni Suprapti. Nama-nama beken tersebut dengan jabatan saat ini, tentu punya pengalaman untuk membesarkan Golkar kedepan.

“Selain itu, kreteria tersebut juga melekat pada sosok Taba Iskandar, Ketua Kosgoro 1975 Provinsi Kepri. Diarena politik tentunya sudah tidak diragukan lagi. Karena pernah duduk sebagai Ketua KNPI Batam (1998), Ketua PPD II (KPU sekarang,red) (1999), Ketua Forum Parpol Batam (1999) yang memperjuangkan Batam sebagai daerah otonom, Ketua DPRD Batam pertama (2000-2004). Posisi lainnya adalah pernah menduduki Sekjen Adeksi( Asosiasi DPRD Kota se Indonesia 2000-2004), dan DPRD Prov Kepri 2004 di beberapa priode. Diluar itu juga ada nama Dalmasri Syam yang juga punya kapasitas, “jelasnya.

Pemerhati Politik Kepri, Zamzami A Karim mengatakan, minimnya kaderisasi dialami hampir semua partai tingkat Provinsi Kepri, termasuk partai-partai besar seperti PDI Perjuangan Kepri, Partai Golkar. Sebagai contoh, PDI Perjuangan dalam Pilgub Kepri nanti, masih tetap mengandalkan atau mengusung Ketua DPD PDI Perjuangan Kepri Soerya Respationo yang notabene merupakan tokoh senior. Karena PDI Perjuangan Kepri belum ada keberanian untuk memunculkan kader lainnya. Padahal di Tanjungpinang ada Lis Darmansyah, di Batam ada Jumaga Nadeak dan adik kandung Soerya untuk bertarung pada Pilgub Kepri nantinya.

Begitu juga dengan Partai Golkar Kepri, dimana pada pilgub Kepri, masih menonjolkan dan berharap pada satu nama yakni Ansar Ahmad. Padahal kader Golkar Kepri lainnya yang bisa ditonjolkan dan bisa diusulkan untuk maju pada pilkada Kepri ini ada nama Taba Iskandar, selain itu ada nama lainnya yakni Rizky Faisal, Taba Iskandar, dan figur potensial lainnya yang ada di Golkar Kabupaten/Kota. “Golkar untuk regenerasi juga mengalami stagnan. Belum bisa mengorbitkan kader yang potensial, yang bisa mensejajarkan diri dengan nama besar Ansar Ahmad, “jelasnya.

Partai besar lainnya seperti Demokrat dan Nasdem juga belum berani memunculkan kader-kadernya. Demokrat, saat ini masih juga bertumpu pada sosok Apri Sujadi yang saat ini menjabat sebagai Bupati Bintan. Pada pendapatnya, sosok Apri Sujadi juga belum mampu untuk berkibar di tingkat provinsi atau maju untuk diusung sebagai Cagub Kepri.  Sementara, Nasdem memiliki nama besar Rudi, namun sepertinya sosok itu masih lebih memilih di Pilkada Kota Batam untuk meneruskan ke periode berikutnya.

“Secara keseluruhan di Nasdem Kepri juga untuk kaderisasi masih sangat terbatas, hanya nama-nama lama saja yang muncul dan belum mampu untuk tampil di tingkat provinsi atau calon gubernur, “jelasnya lagi.

Sementara partai lainnya seperti PPP, PKB, Hanura, PKS dan lainnya masih jauh untuk regenerasi kader. Bahkan menurut Zamzami kader di partai-partai lain tidak ada nama besar yang bisa diusung sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur. “Seharusnya sudah sejak 5 atau 10 tahun lalu, kaderisasi di partai-partai sudah dilakukan dengan serius. Sehingga pada saat menjelang pilkada, pileg dan lainnya bisa muncul namanya ke publik dan bisa lebih dikenal masyarakat, “tutup Zamzami. (jpg)