PRO PINANG – Dampak penyebaran global virus corona benar-benar mempengaruhi perekonomian Batam, khususnya sektor pariwisata dan industri. Dalam paparannya, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, menyatakan Batam akan kehilangan potensi devisa per bulan dari sektor pariwisata sebesar 1,09 juta dolar Amerika.

“Adanya outbreak virus corona mempengaruhi jumlah kunjungan wisman seiring dengan periode low season pada awal ta­hun. Dengan pe­nutupan dua rute penerbangann dari Tiongkok ke Batam, poten­si penurunan devisa per bulan mencapai 1 juta dolar Amerika,” kata Musni saat rapat antisipasi serta dampak penyebaran virus corona bagi perekonomian Batam di Gedung BP Batam, Senin (2/3/2020).

Penutupan total penerbangan berisiko menurunkan jumlah wisman setidaknya enam bulan ke depan. Perhitungannya, dalam sekali penerbangan ada 117 penumpang dan dalam sebulan ada 12 kali penerbangan. Devisa per wisman mencapai 778 dolar Amerika. Maka potensi kehilangan pendapatan sebanyak 1,09 juta dolar Amerika.

Kedatangan wisman ke Batam melalui pelabuhan feri internasional mengalami penurunan. Wisman asal Tiongkok, Korea, dan Taiwan biasanya datang melalui Singapura menuju Batam. Hingga saat ini feri masih beroperasi sesuai jadwal terlepas ada atau tidaknya penumpang.

Di Pelabuhan Batam Center, jumlah penumpang turun hingga 40 persen. Di Sekupang turun hingga 12 persen. Di Nongsapura turun sembilan persen, dan di Harbour Bay turun 50 persen.
Tiongkok sendiri menyum-bang 10 persen dari total kunjungan wisman ke Kepri pada 2019. Tapi, sejak Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan larangan masuknya WNA dari Tiongkok, akan berdampak pada penurunan jumlah wisman asal negeri Tirai Bambu tersebut. Potensi penurunannya sekitar 10 hingga 15 persen.

Sedangkan di sektor industri, dampak virus corona menunda kembalinya tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok pasca perayaan Imlek. Adapun total TKA asal Tiongkok di Batam hingga Februari 2020 mencapai 1.154 orang. Banyak yang saat ini tidak bisa kembali ke Batam sejak libur Imlek karena larangan masuk pemerintah Indonesia terhadap warga Tiongkok.

Di sisi lain, impor bahan baku dari Tiongkok juga terhambat. Imbasnya pada industri yang sekarang kekurangan bahan baku. Stoknya sudah menipis dan diperkirakan akan bertahan paling lama sebulan saja.

Tiongkok menyumbang 13,07 persen kebutuhan bahan baku industri di Batam. Barang-barang yang diimpor antara lain elektronik, produk dari besi dan baja, besi dan baja serta plastik. Tiongkok di peringkat kedua, sedangkan Singapura peringkat pertama dengan kontribusi 44,10 persen. Tapi, hampir seluruh barang impor dari Singapura juga berasal dari Tiongkok.

Pembahasan dampak Corona

Karena dampaknya yang begitu masif, BI Perwakilan Kepri kembali mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Kepri. Dari semula 4,5 – 4,9 persen di triwulan pertama 2020 menjadi 4,3 – 4,7 persen. Atas dasar tersebut, BI Perwakilan Kepri memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah (Pemda) dan pemangku kepentingan terkait. Tujuan dari rekomendasi ini untuk menjaga daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Pertama melindungi daya beli 40 persen masyarakat terbawah dengan kartu sembako dan subsidi bunga perumahan,” ujarnya.

Kemudian untuk sektor pariwisata, insentif yang disarankan yakni insentif kepada maskapai dan agen travel. Lalu insentif tiket bagi wisatawan domestik untuk 10 destinasi pariwisata. Berikutnya yakni pengurangan harga avtur di sembilan destinasi pariwisata selama tiga bulan. Dan terakhir pengurangan tarif pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) pada 10 destinasi pariwisata.

Sejumlah insentif lainnya juga cukup menarik yakni meningkatkan kegiatan meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) di Kepri. Mendorong promosi kepada wisatawan Nusantara sebagai alternatif solusi jangka pendek menghadapi penurunan jumlah wisman.

Lalu, memonitor perkembangan aktivitas manufaktur khususnya industri dengan tujuan ekspor utama atau sumber bahan baku utama berasal dari Tiongkok.

“Menjaga confidence dan optimisme terhadap kondisi ekonomi Kepri dan nasional, serta menjajaki kemungkinkan insentif jangka pendek serta implementasinya di daerah. Serta mengelola inflasi agar tetap rendah dan stabil,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hoeing, mengatakan penyebaran virus corona mengganggu jalur perdagangan global. Imbasnya yakni mengganggu suplai bahan baku industri.

“Jika perang dagang saja sudah buruk, maka corona adalah neraka. Kalau perekonomin Tiongkok turun, pertumbuhan ekonomi kita terkoreksi 0,3 hingga 0,5 persen,” paparnya.

Sebanyak 50 persen suplai bahan baku industri untuk Batam berasal dari Tiongkok. Kalangan industri di Batam sempat berpikir untuk mengganti jalur impor ke Eropa. Tapi saat ini, gelombang kedua hantaman virus corona sedang melanda Eropa, seperti di Italia, Prancis, dan lainnya.

“Itu menyebabkan produksi dan ekonomi Eropa menurun juga,” terangnya.

Di samping itu, mengalihkan jalur impor ke Eropa juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

“Kalau mau cari di Eropa tak bisa selesai dalam satu hingga tiga bulan. Karena harus cek lagi apakah cocok materialnya dengan barang yang akan diproduksi di Batam,” ungkapnya.

Ke-24 kawasan industri (KI) di Batam dan Bintan serta Karimun tengah menerima dampak yang luar biasa.

“Kalau di Batam, industrinya pemain utama. Maka di luar Batam merupakan supporting. Semuanya terdampak karena produksi menurun. Ditambah lagi, belum ada insentif untuk industri,” jelasnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan insentif yang diberikan untuk sektor pariwisata sudah tepat.

“Cuma harus dipastikan implementasinya cepat supaya dampaknya terhadap kompensasi akibat dampak virus corona cepat dirasakan kalangan pelaku usaha dan wisatawan,” ungkapnya.

Namun, sayangnya, insentif untuk industri manufaktur dan kebijakan menjaga masuknya investasi belum ada.

“Jika dibiarkan kita khawatir dampak virus corona ini akan menyebabkan pengangguran meledak di Batam akibat industri shutdown karena kehabisan bahan baku dan kekurangan tenaga ahli,” jelasnya.

Wali Kota Batam yang juga Kepala Badan Pengusahaan Batam, Muhammad Rudi, akan membawa kendala yang dihadapi dunia usaha di Batam pasca mewabahnya virus corona ke pemerintah pusat.

“Saya berharap pajak-pajak yang ada dan perizinan dipermudah. Kita minta pada menteri karena ada kasus corona, ini jadi tanggung kalau enam bulan. Baik BP dan Pemko berkurang pendapatannya. Maka baiknya, buka lapangan investasi semudah-mudahnya untuk memperingan situasi ini,” paparnya. (leo)