PRO PINANG – Ke-tersediaan masker mulai langka di Batam sejak merebaknya virus corona. Bahkan, harga jual masker ini mencapai 4 kali lipat.

Informasi yang didapatkan, selain tingginya permintaan masyarakat, kelangkaan ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu dengan melakukan penimbunan untuk mengeruk untung lebih.

“Saya lihat pemilik toko obat menurunkan masker dari mobil sampai delapan kardus. Saat saya mau beli, dia tak mau jual,” ujar Ari, warga Tiban, Sekupang.

Menurut dia, toko obat tersebut sengaja tak menjual masker itu pada saat ini. Sehingga saat langka, pemilik toko itu bisa menjual dengan harga sangat tinggi.

“Hal seperti ini sudah biasa (penimbunan). Jadi mereka (pedagang) bisa mendapatkan untung yang besar,” katanya.

Sementara itu, Kapolresta Barelang, AKBP Purwadi Wahyu Anggoro menegaskan, pihaknya akan mengecek seluruh pengecer masker di Batam.

“Mengenai kelangkaan ini, akan kita cek di pengecer. Sudah saya infokan ke seluruh anggota. Kalau ada penimbunan, akan langsung ditindak,” katanya.

Purwadi mengimbau masyarakat yang mengetahui adanya penimbunan tersebut untuk melaporkannya kepada pihak kepolisian.

“Kalau ada tidak boleh dibiarkan. Jika ada yang mengetahui segera laporkan, karena sekarang masker di Batam memang kurang,” ujarnya.

Masker
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Sulit Dicari

Beredarnya informasi terkait virus corona yang positif di Batam, membuat sejumlah masyarakat mulai waswas. Apalagi, informasi yang beredar menyebut puluhan warga Batam telah berinteraksi dengan penderita positif virus corona.

Hal itu membuat sejumlah masyarakat kembali berburu masker. Namun sayang, banyak warga gigit jari karena tidak mendapatkan masker.

Seperti yang dirasakan Rahayu, warga Nongsa. Ia sudah berkeliling daerah Nongsa hingga Batam Center untuk mencari masker. Namun, hasilnya nihil setelah menanyakan di belasan apotek dan swalayan.

“Sudah keliling cari masker, namun tetap tak ketemu. Bi-ngung carinya kemana,” ujar wanita berusia 27 tahunan ini.

Menurutnya, saat ini ia hanya menggunakan masker bentuk kain untuk antisipasi sementara. Di sisi lain, ada informasi yang menjelaskan penggunaan masker kain sia-sia karena tak dapat menangkal penyebaran virus corona.

“Ini yang bikin panik, apalagi informasi di grup-grup itu tentang banyak yang positif. Tapi nyari masker entah kemana,” ungkapnya.

Selain pasrah dengan situasi, Rahayu berharap pemerintah bisa segera turun tangan. Jangan sampai ada warga yang positif bertambah karena tak bisa melindungi diri sendiri sebab tak menggunakan masker di tempat umum.

“Berharap pemerintah dan pihak terkait bisa segera turun tangan. Masker itu susah di dapat, gimana masyarakat bisa menjaga kesehatan. Harus segera ada tindak tegas,” terangnya lagi.

Hal senada diungkapkan Albert warga lainnya. Ia mengaku pasrah ketika mengetahui harga masker yang melambung dan susah didapat.

“Harga masker gila banget, dimana-mana per kotak itu lebih dari Rp 200- 300 ribu, itu pun susah dijumpai,” terangnya.

Menurutnya, beberapa waktu lalu ia pernah membeli dua kotak masker untuk berjaga-jaga. Namun seiiring waktu, masker tersebut habis karena hampir dipakai setiap hari.

“Sehari itu saya gunakan dua, tambah istri dan anak. Jadi rata-rata sehari pakai 10 buah, dan akhirnya habis,” jelasnya.

Sementara, informasi ada-nya warga Indonesia yang positif corona baru ia dengar kemarin.

“Nah, ini bingungnya, pas nyari masker sudah pada habis. Bingung juga nyari dimana,” terangnya lagi.

Ia berharap pemerintah bisa cepat tanggap terhadap keluhan warga. Paling tidak masyarakat bisa berjaga-jaga dan menghindari diri dari corona dengan memakai masker.

“Masker hilang, cairan antiseptik pencuci tangan juga mulai langka. Entah kemana hilangnya. Semoga pemerintah cepat tanggap,” pungkas Albert. (opi/she)