PRO PINANG – Ketersediaan air baku di beberapa waduk atau dam di seluruh Batam semakin mengkhawatirkan.

Dengan tingkat konsumsi air yang tinggi namun curah hujan, stok air baku di Batam makin kritis.

Bahkan, dari berbagai laporan yang diterima Badan Pe-ngusahaan (BP) Batam menyebut, stok air baku yang ada hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan antara dua hingga tiga bulan ke depan jika tak turun hujan.

Salah satu waduk yang debit airnya menyusut adalah Dam Duriangkang.

Ini adalah waduk andalan karena digunakan untuk memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan air bersih di Batam. Namun, debitnya jauh menyusut sepanjang musim kemarau ini.

Data dari dashbord sistem pengelolaan air terintegritas milik PT Aditya Tirta Batam (ATB) menunjukkan, air baku di Dam Duriangkang telah berada pada level minus 2,76 meter di bawah spillway (batas melimpah).

”Sejak beberapa bulan belakangan ini debit air terus menurun. Di lapangan bisa dibilang susut sekitar tiga meter,” ujar Humas PT ATB, Iksa Wijanarko, Senin (2/3).

Batam Pos yang mendatangi lokasi waduk yang berada di Kecamatan Seibeduk ini juga melihat langsung penurunan debit air yang cukup drastis.

Lokasi pinggiran waduk yang diberi pembatas bebatuan dan biasanya terendam air, kini batu-batu itu terlihat dengan jelas. Sebab, air sudah berada di bawah tumpukan bebatuan tadi. Kira-kira sekitar tiga meter menyusut dari lokasi genangan air normal.

 

Dam Duriangkang di Batam.
foto: batampos.co.id / dalil harahap
foto: batam

”Kalau normal bebatuan itu tertutup genangan air. Tapi sekarang sudah di bawah bebatuan itu. Jadi memang menyusut,” ujar Iksa.

Situasi yang sama terjadi hampir di semua waduk yang ada di Kota Batam. Waduk Mukakuning dan Simpang Dam, juga demikian. Susutan air kelihatan dengan jelas dari jalan raya.
Pinggiran waduk yang biasanya tergenang air kini mengering dan cukup panjang jaraknya sampai ke genangan air yang ada saat ini.

Sementara itu, Deputi IV BP Batam, Shahril Japarin, mengungkapkan bahwa solusi jangka pendek yang bisa dilakukan adalah interkoneksi antardam di Batam, biasanya dilakukan antara Dam Mukakuning dan Dam Tanjungpiayu.

”Dengan interkoneksi, maka kebutuhan air bisa terpenuhi. Untuk (mengakomodasi) kebutuhan air sendiri, ada yang bilang sampai dua bulan, tapi ada juga yang menyebut sampai 80 hari,” ucapnya.

Untuk jangka panjang, BP Batam akan membahasnya dengan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian.
Termasuk, soal anggaran.

”Tapi itu tak bisa di sini, perlu izin Menko dan lain-lain. Ini keputusan skala besar, dampaknya juga luas. Selebih-nya adalah berdoa bersama agar turun hujan,” imbuhnya.

Head of Corporate Secretary ATB Batam, Maria Jacobus, mengatakan Batam harus serius memperhatikan cada-ngan air baku yang semakin berkurang.
Dengan kondisi pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim, menyebabkan cadangan air baku terus menipis.

“ATB telah berupaya me-ngelola air yang ada secara efisien. Sehingga cadangan air yang terbatas masih bisa bertahan hingga hari ini. Namun, seefisien apapun ATB mengelola air, jumlahnya tidak akan mencukupi jika tidak dibarengi dengan penambahan cadangan air baru,” jelasnya.

Saat ini, harapan terbesar masyarakat Batam ada di Dam Duriangkang. Namun, cada-ngan air di waduk itupun terus menurun. Saat ini, elevasi air telah berada di angka minus 2,94 meter di bawah spillway, dan terus mengalami penurunan 2 sentimeter (cm) setiap harinya.

 

Air menyusut

Jika elevasi air di Dam Duriangkang telah menyentuh minus 3,4 meter di bawah spillway, maka suplai air kepada 235 ribu pelanggan akan terganggu. Tidak hanya pelanggan rumah tangga, namun juga pelanggan industri dan bisnis.

“Mari kita bersama-sama peduli dengan kelangsungan air kita di masa depan dengan menghemat penggunaan air. Gunakan air seperlunya. Dan kita juga berharap segera ada tambahan sumber air baku baru,” imbuhnya.

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi, meminta masyarakat Batam banyak-banyak berdoa agar hujan turun. Krisis air bersih memang tengah dialami Batam, dimana sejumlah waduk di Batam, khususnya Dam Duriangkang mengalami penyusutan yang parah.

”Saya minta agar (masyarakat Batam, red) berdoa supaya Batam dicurahkan hujan,” katanya di Gedung BP Batam, Senin (2/3/2020).

Level penyusutan air dari spillway masing-masing dam memang sangat rendah, ditam-bah lagi musim kemarau yang melanda Batam di Februari kemarin.

”Hemat air harus dilakukan. Jadi, jika tiga atau empat jam mati, ya itu wajar. Air levelnya sudah di bawah kali. Kalau dipakai secara normal, maka dua bulan lagi tewas (stok habis). Solusinya rationing (penggiliran,red) akan segera diatur,” paparnya. (eja/leo)