Tji Agus Thamrin (kiri) bernostalgia dengan Mayjen (Purn) Istu Hari Subayo (kanan), yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Provinsi Jatim. F.Dokumentasi DPRD Provinsi Jatim untuk Batam Pos

PRO PINANG – Tak banyak generasi sekarang yang tahu, bahwa Kota Surabaya nyaris jadi lautan api sekitar pertengahan Mei 1998. Namun, rencana untuk membakar pusat ekonomi di kota ini urung terjadi karena sebuah persahabatan.

Persahabatan apik antara pengusaha dan pejabat militer di Kota Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya. Hubungan yang sangat baik membuat segala komunikasi menjadi lebih cepat. Tanpa birokrasi. Tanpa basa basi. Sehingga, solusi yang diambil juga sangat cepat.

Adalah Tji Agus Thamrin, yang ketika itu menjabat Kepala Wilayah Bank BCA Surabaya yang karena pekerjaanya punya hubungan dekat dengan pejabat-pejabat militer baik di level menengah dan atas.

Salah seorang sahabat karibnya di Surabaya, adalah Letkol Inf Istu Hari Subagyo. Komandan Batalyon (Danyon) Sikatan surabaya pada waktu itu. Persahabatan mereka terjalin jauh sebelum kerusuhan merebak di kota-kota besar di Tanah Air. Kelak terbukti betapa dalamnya arti sebuah persahabatan.

Ketika pusat perekonomian di Kota Surabaya kritis dan dalam hitungan jam akan terjadi penyerbuan besar-besaran, termasuk ke Bank BCA di Kertopaten, kedua sahabat itu berkolaborasi. Untuk mencegah amuk massa.

Mayjen (Purn) Istu Hari Subagio, yang juga mantan Pangdam I Bukit Barisan, tampak tersenyum saat mengenang kejadian itu. Kini, dia menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim 2019 – 2024 dari Partai Golkar. Dan, menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Jatim.

Sosoknya masih terlihat gagah, ingatannya tajam, suaranya sangat jelas tapi tetap humble saat kami menemuinya di Surabaya, Senin (17/2/2020).

“Kalau informasi dari Pak Agus (Tji Agus Thamrin) telat 1 jam saja, Surabaya jadi lautan api. Itu info A1 (valid dan akurat),” kata Istu Hari Subagyo, dalam sebuah perbincangan belum lama ini.

Istu Hani Subagyo saat itu sedang bernostalgia dengan sahabat karibnya Tji Agus Thamrin. Keduanya tampak semringah saat berbincang dan sesekali disertai canda khas Suroboyan.

Saat itu, imbuhnya, massa sudah mulai melakukan pengerusakan di pusat perekonomian Surabaya di sekitar Kertopaten, Soyoyudan, Kembang Jepun dan sekitarnya.

Jika massa dari berbagai wilayah itu menyatu dengan massa di Kertopaten, situasinya akan sangat sulit dikendalikan. Apalagi di antara ribuan massa itu ada sekitar 600-an provokator terlatih.

Massa di Kertopaten, saat itu juga sudah mengepung kantor cabang pembantu Bank BCA di Kertopaten. Target para perusuh hanya satu, bakar dan bumihanguskan. Jika peristiwa itu terjadi, diprediksi pusat perekonomian Surabaya dan Jatim akan hancur.

Mayjen (Purn) Istu Hari Subagio saat masih menjabat sebagai Pangdam I Bukit Barisan. F.Dokumentasi DPRD Provinsi Jatim untuk Batam Pos

Situasi semakin genting karena sebagian besar pasukan sudah dikerahkan ke berbagai lokasi. Hanya tinggal beberapa puluh orang di markas batalyon.

Situasi kritis itu langsung disampaikan ke Pangdam Jawa Timur. Yang mana pangdam langsung menuju ke lokasi kertopaten bersama Kasdam dan memimpin pengamanan langsung.

Sedangkan pengamanan pintu tol yang tadinya dipimpin langsung Pangdam, diserahkan ke Dandrem. Menjelang kedatangan Pangdam ke lokasi, Letkol Inf Istu Hari Subagyo sudah menggerakkan pasukannya yang masih tersisa di markas batalyon untuk mengadakan antisipasi secepatnya.

Hanya dalam waktu singkat, pasukannya tiba di Kertopaten dan melihat ada pasukan datang, massa pun mulai membubarkan diri. Kecepatan bergerak pasukan itu, terbukti telah mencegah konsentrasi kelompok massa dari arah Semampir dan Gembong.

Bilamana masa dari Semampir dan Gombong telah menyatu dengan massa dari Kertopaten, situasi tidak akan bisa terkendali lagi. Strategi yang cerdas dan tindakan yang cepat yang dilakukan Letkol Inf Istu Hari Subagyo, saat itu telah menyelamatkan Surabaya dari kehancuran.

Tji Agus Thamrin, yang kini bermetamorfasa menjadi pengusaha pariwisata, tersenyum mendengar sahabat karibnya bercerita. Sesekali dia menimpali dan memuji kecerdasan serta kecepatan bertindak sohibnya itu.

Persahabatan terbukti mampu mengubah hal yang sulit menjadi indah. Persis seperti lagu Kepompong dari Sindentosca yang populer di tahun 2008. Yang salah satu bait liriknya, sebagai berikut: …Persahabatan bagai kepompong.. Mengubah ulat menjadi kupu – kupu.. Persahabatan bagai kepompong.. Hal yang tak mudah berubah jadi indah…

Istu Hani Subagio, menambahkan di akhir pertemuan singkat dan hangat itu. Selain persahabatan yang baik, solidnya Muspida di Surabaya ketika itu juga berperan penting. Untuk mencegah terjadinya kerusuhan yang lebih parah.

  • Mereka yang Tak Takut Mati Menjaga BCA saat Kerusuhan 1998

Perbincangan dua sahabat itu nyaris sama seperti yang tertulis di buku sejarah BCA yang berjudul, Game Changing Transformasi BCA 1990-2007.

Buku itu ditulis oleh Aswin Wiryadi, mantan Wadirut BCA terbitan Gramedia. Di halaman 10 — 11 pada buku, disebutkan peran besar Tji Agus Thamrin dan Aswin Wiryadi menyelamatkan institusi BCA dari kehancuran.

Aswin menceritakan di buku itu, bahwa kondisi sudah sangat kritis. Karena, massa perusuh sedang berkonsentrasi menuju gedung BCA kantor pusat. Padahal, di kantor itu ada komputer yang menyimpan data semua nasabah. Dan, pada saat itu juga pasukan yang rutin menjaga gedung BCA mendadak ditarik.

Kondisi kritis itu terselamatkan berkat hubungan persahabatan Tji Agus Thamrin dengan perwira tinggi (pati) militer. Komunikasi di masa itu sangat sulit, beda dengan sekarang dan butuh waktu lama untuk bisa terhubung. Triyani, Sekretaris Tji Agus yang berusaha terus menerus hingga akhirnya tersambung.

Ketua Komisi I DPRD Jatim, Mayjen (Purn) Istu Hari Subagio (kiri) saat berbincang dengan Tji Agus Thamrin (kanan). F.Dokumentasi DPRD Provinsi Jatim untuk Batam Pos

Karena persahabatan yang sangat akrab, Tji Agus mampu meyakinkan pati tersebut. Disampaikannya, bahwa menghancurkan BCA bukanlah menghancurkan konglomerat. Akan tetapi menghancurkan ekonomi rakyat, sebab 95 persen rekening tabungan BCA saat itu adalah milik pekerja dan pedagang kecil.

Kalau data mereka hancur, uang mereka tidak bisa diambil. Atas dasar keyakinan tersebut, pati itu mengusahakan 2 truk pasukan yang langsung mengamankan gedung kantor pusat BCA. Di sisi lain, pati itu juga memerintahkan anggota-anggota intel untuk mmemperingatkan para korlap perusuh.

Kalau sampai BCA dihancurkan, mereka akan berhadapan dengan rakyat. Sehingga banyak dari korlap membubarkan massanya dan tidak jadi menuju ke gedung BCA.

Menurut Tji Agus Thamrin dalam perbincangan itu, setelah diterbitkannya buku sejarah BCA tersebut, peran Aswin Wiryadi dan dia dalam penyelamatan institusi BCA sudah terpublikasi.

Namun, ada beberapa teman sejawatnya yang pada saat tersebut ikut serta menyelamatkan BCA. Dan, sanggup mengabaikan keselamatan pribadi mereka.

“Mereka tetap berada di gedung BCA. Walaupun situasi sudah sangat genting, “kata Tji Agus.

Di antaranya, adalah Indra Kuntoro dan Sapto Rachmadi di BCA kantor pusat di Jalan Sudirman, Jakarta.

Kemudian, Triyani, sekretaris Tji Agus Thamrin di BCA Surabaya. Yang tetap di kantor. Walaupun gedung BCA di Jalan Raya Darmo, Surabaya sudah genting.

Hal serupa juga dilakukan pimpinan BCA Palembang, Susanto Angkawinata. Yang tetap di tempat dan memimpin stafnya berhadapan dengan massa perusuh secara heroik.

“Ada saksi dari pati Brimob, yang menceritakan hal itu, “ujar Tji Agus Thamrin.

Mereka semua sudah pensiun, imbuh Tji Agus. Meski begitu, sikap heroik mereka membela insitusi BCA dinilainya patut mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari manajemen BCA. Sekaligus, menjadi keteladanan kepada generasi BCA saat ini dan selanjutnya. (cca)