Kadisdik Kota Tanjungpinang, Atmadinata. F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Pasca Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021 di Kota Tanjungpinang, masih banyak siswa yang belum berhasil mendaftar dan terdapat beberapa sekolah yang kekurangan siswa.

Hal itu diakibatkan masih ada orang tua yang memaksakan untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu yang sebenarnya sudah keluar dari zonasi.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tanjungpinang, Atmadinata menjelaskan PPDB di Tanjungpinang saat ini yang sudah menerapkan sistem zonasi, namun orang tua masih mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu yang dianggap sekolah favorit.

“Padalah pemerintah menerapkan ketentuan zonasi ini supaya secara perlahan meniadakan sekolah favorit,” kata Atma, Jumat (10/7).

Namun itu hanya sebagian masyarakat, sebab Disdik sudah memberikan pemahaman ada yang sudah memahami untuk medaftarkan anaknya ke sekolah yang masih memiliki kuota.

“Seperti SMP 6, SMP 15, SMP 12 dan SMP 8 masih ada kuota,” ujar Atma.

Dijelaskan Atma, Disdik sudah mengarahkan orang tua yang anaknya saat ini belum tertampung ke sekolah yang masih kekurangan siswa, tidak boleh memaksakan untuk masuk ke sekolah lain sebab ada kuotanya.

“Sangat dihindari ada anak usia sekolah yang putus sekolah, dan harus tertampung,” ungkapnya.

Atma menegaskan, Disdik tidak membatasi waktu penerimaan siswa baru yang belum tertampung untuk didaftarkan ke sekolah.

“Daftar ulang itu sampai tanggal 11 Juli, tapi kalau masih ada yang belum daftar kenapa tidak, sebab kalau ada batasan waktu nanti anak itu putus sekolah,” tegasnya.

Disdik meminta kepada orang agar tidak memaksakan anaknya untuk masuk ke sekolah tertentu, mana sekolah yang masih kosong silahkan daftar.

“Karena sekolah yang dianggap favorit itu sudah membludak, sementara ada sekolah lain yang masih kekurangan siswa,” sebut Atma.

Atma mengakui masih kendala lain yang ditemukan saat PPDB seperti masalah dokumen administrasi pendukung seperti Kartu Keluarga (KK) untuk menentukan seorang anak masuk ke zona sekolah terdekat dan permasalahan sistem karena ada orang tua yang tidak memiliki alat untuk mendaftarkan anaknya.

“Solusinya kami arahkan untuk masuk ke sekolah yang masih kosong,” ungpanya. (raw)