Ansar Ahmad bersama Marlin Agustina Pasangan Calon Gubernur Kepri dan Calon Wakil Gubernur Kepri. F.Golkar Kepri untuk Batam Pos

PRO PINANG – Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem) menjadi poros baru yang mengubah peta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Provinsi Kepri. Berbekal delapan kursi di DPRD Kepri, DPP Partai Golkar memberikan laluan kepada Ansar Ahmad sebagai Calon Gubernur Kepri dan Marlin Agustina Calon Wakil Gubernur Kepri untuk bertanding digelanggang Pilkada Kepri, 9 Desember 2020 mendatang.

“DPP Partai Golkar sudah mengeluarkan tiga rekomendasi untuk Pilkada di Kepri. Pertama adalah Ansar-Marlin yang diplot sebagai kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri. Kemudian Aunur Rafiq-Anwar Hasyim untuk calon Bupati dan Wakil Bupati Karimun. Sedangkan yang ketiga adalah Apri Sujadi-Roby Kurniawan untuk bertarung di Pilkada Bintan,” ujar Wakil Ketua Bidang Penggalangan Opini DPD I Golkar Kepri, Suyono, Minggu (12/7) di Tanjungpinang.

Menurutnya, dengan adanya keputusan DPP Golkar tersebut, menjadi kewajiban bagi semua kader Golkar di Provinsi Kepri untuk mengamankan, melaksanakan dan memenangkan apa yang sudah menjadi keinginan DPP Partai Golkar. Pihaknya berharap seluruh kader dan tim pemenangan merapatkan barisan dalam memenangkan pasangan ini.

Ditanya apakah sudah ada keputusan yang sama dari DPP Partai NasDem untuk mengusung Ansar-Marlin? Mengenai hal itu, pria yang akrab disapa Yono tersebut menegaskan, meskipun secara resmi belum disampaikan oleh Partai NasDem. Namun pada prinsipnya partai tersebut sudah sepakat mengusung Ansar-Marlin.

Disebutkannya juga, Partai Golkar saat ini juga sedang melakukan komunikasi politik dengan sejumlah partai yang masih belum menentukan sikap politiknya. Yakni ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat.

Pada kesempatan itu, Yono juga mengatakan ada beberapa faktor DPP Partai Golkar memutuskan untuk memberikan laluan kepada Ansar-Marlin. Disebutkannya, bagi sosok Mantan Ketua DPD I Partai Golkar Kepri tersebut, berbekal pengalaman sebagai Bupati Bintan dan keberhasilan dalam melakukan pembangunan di Bintan menjadi parameter tersendiri. Selain itu, meskipun belum lama duduk di DPR RI, namun sudah turut berkontribusi dalam mendorong rencana-rencana pembangunan strategis untuk segera diwujudkan.

“DPP Golkar juga punya keyakinan, dengan duduknya Pak Ansar nanti sebagai Gubernur Kepri akan membawa perubahan pembangunan Provinsi Kepri menjadi lebih baik lagi,” jelasnya.

Kemudian mengenai sosok Marlin Agustina, dalam menjalankan roda pemerintahan butuh kesinambungan. Karena perempuan juga bisa berkontribusi dalam mengisi pelaksanaan pembangunan daerah. Ditambahkannya, tidak menutup kemungkinan akan ada partai lainnya yang sepakat bergabung dalam koalisi ini.

“Setelah ini tentu Golkar akan melakukan konsolidasi dengan merapatkan barisan di internal. Dengan adanya keputusan DPP Golkar ini, Pak Ansar siap untuk memberikan yang terbaik untuk Provinsi Kepri kedepan,” tutupnya.

Terpisah Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Provinsi Kepri, Kamal Dimyati mengatakan, DPP Partai NasDem pada prinsipnya sudah menyatakan langkah yang sama dengan DPP Partai Golkar. Menurutnya, meskipun belum ada rekomendasi tertulis, namun hal itu akan segera diberikan ke Ansar-Marlin.

Ditanya mengenai adanya konsolidasi internal Partai NasDem Kepri malam ini (tadi malam,red) di Tanjungpinang. Mengenai hal itu, Legislator DPRD Batam tersebut menjelaskan, bahwa rencana konsolidasi tersebut sudah beberapa waktu lalu. Artinya, tidak berkaitan dengan adanya rekomendasi yang dikeluarkan Partai Golkar.

“Memang benar malam ini (tadi malam,red) ada pertemuan internal Partai NasDem di Tanjungpinang. Salah satu pembahasan tentunya persiapan NasDem dalam menghadapi Pilkada serentak nanti,” ujar Kamal.

Menunggu Kuda Hitam Pilkada Kepri

Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISIPOL) Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka mengatakan, meskipun NasDem sampai saat ini belum memberikan keputusan, namun sikap politik Golkar sudah mengisyaratkan dua poros besar ini akan bergabung. Kondisi ini secara tidak langsung akan turut mempengaruhi partai politik (parpol) yang lain untuk segera menentukan sikapnya.

Dijelaskannya, Golkar dengan delapan kursi di DPRD Kepri, dan NasDem enam kursi tentunya sudah menguasai 31,11 persen kursi di DPRD Provinsi Kepri atau poros kedua yang sudah menentukan nama. Kemudian poros pertama tentunya PDI Perjuangan, Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 15 kursi atau 33,33 persen kursi di DPRD kepri. Namun demikian, tidak menutup akan adanya poros baru yang terbentuk.

“Melihat sisa kursi yang ada, tentu masih ada kemungkinan satu pasang lagi. Kita tunggulah, apakah ada kuda hitam atau tidak di Pilkada nanti,” ujarnya, kemarin di Tanjungpinang.

Terpisah, Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Adji Suradji Muhammad dengan kondisi ini, Pilkada serentak di Kepri akan menguntungkan Partai Golkar tentunya di beberapa daerah. Baik itu di Karimun, Bintan dan Provinsi Kepri tentunya. Dengan adanya nama Marlin Agustina, tentu Ketua DPW Partai NasDem Kepri, Muhammad Rudi akan all out melalui NasDem untuk mengantarkan istrinya menjadi Wakil Gubernur Kepri.

“Banyak keuntungan tentunya bersandingnya Ansar-Marlin. Dengan suara terbanyak saat Pileg lalu, tentunya menjadi parameter tersendiri bagi Ansar Ahmad. Sedang nama Marlin akan turun memberikan pengaruh dukungan baru di Batam dan Karimun,” ujarnya.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Pusat Kebijakan Publik dan Kemasyaratan (PKPK) Umrah tersebut berkeyakinan, beberapa partai juga akan merapat dalam koalisi ini. Apalagi melihat adanya dukungan Golkar untuk Apri Sujadi-Roby Kurniawan di Bintan. Dalam kacamata politiknya, dukungan tersebut tidak ada yang gratis. Sehingga tidak menutup kemungkinan Demokrat juga akan berada di dalam gerbong ini nantinya.

“Semakin dekatnya waktu pendaftaran, konstelasi politik di Kepri semakin panas. Kalau tiga pasang, semua punya peluang yang akan ditentukan oleh pergerakan mesin politiknya,” jelas Suradji. (jpg)