Pesawat Qingdao Airlines mengangkut TKA Tiongkok mendarat di Bandara RHF Tanjungpinang, Kepri, Jumat (2/10). (Ogen/Antara)

PRO PINANG – Sebanyak 150 TKA asal Tiongkok kembali masuk ke PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) Galang Batang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Mereka tiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Kota Tanjungpinang, dengan menggunakan pesawat Qinqdao Airlines, Jumat (2/10) sekitar pukul 14.30 WIB.

Sejumlah petugas medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Tanjung Pinang berpakaian lengkap alat pelindung diri (APD) siaga menyambut kedatangan para TKA tersebut. Satu per satu TKA yang turun dari pesawat diperiksa suhu tubuh, diwajibkan mengisi e-Hac, menjalani tes cepat, dan menunjukkan hasil tes usap dengan hasil negatif dari negara asal.

”Protokol kesehatan di pintu masuk negara tetap diperketat guna mengantisipasi persebaran Covid-19,” ujar Kepala KKP Tanjungpinang, Agus Jamaluddin seperti dilansir dari Antara pada Jumat (2/10).

Selanjutnya, para TKA tersebut naik bus menuju PT BAI. Di sana mereka akan menjalani karantina mandiri selama 14 hari di wisma milik perusahaan, baru kemudian diperbolehkan beraktivitas. ”Selama karantina mandiri, kami tetap mengawasi kesehatan mereka,” tutur Agus.

Terpisah, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepri Abdul Bar menyatakan, pekerja asing tersebut merupakan tenaga ahli yang dikontrak sekitar enam bulan hingga setahun untuk menyelesaikan proyek konstruksi di PT BAI.

”PT BAI turut melibatkan tenaga kerja lokal untuk mengerjakan proyek tersebut,” ucap Abdul Bar.

Keberadaan TKA memang dibutuhkan PT BAI mengingat ada beberapa produk, misalnya peralatan mesin yang dibeli dari Tiongkok, sehingga dalam pengoperasiannya memerlukan tenaga ahli. Namun, seiring berjalan waktu diharapkan dapat diambil alih pekerja lokal.

”Bukan berarti tenaga kerja lokal tidak mampu, hanya saja TKA ini lebih paham. Nah, ilmunya itu bisa diserap pekerja supaya ke depan bisa dikerjakan sendiri tanpa keterlibatan mereka lagi,” jelas Abdul Bar.

Pihaknya pun menjamin TKA tersebut sudah memenuhi persyaratan bekerja di Bintan karena telah mengantongi izin Rencana Penggunaan TKA (RPTKA) dari Kementerian Tenaga Kerja. ”Kalau menyangkut perizinan itu wewenang pusat, tugas kami hanya melakukan pengawasan, misalnya pendataan rutin terkait keberadaan TKA Tiongkok ini,” tutur Abdul Bar.

Berdasar data dari PT BAI, sudah sekitar 500 TKA asal Tiongkok. Sedangkan untuk pekerja lokal ada sekitar 3 ribu orang, baik dari Bintan maupun daerah lain di Indonesia. PT BAI masih fokus membangun berbagai infrastruktur untuk pembangunan smelter (pemurnian batu bauksit) dan PLTU dengan nilai investasi sekitar Rp 20 triliun dan menyerap 20 ribu tenaga kerja.(antara)