Sekda Kepri TS Arif Fadilah menyampaikan pemaparan secara virtual saat webinar di Tanjungpinang, Selasa (6/10). (foto:humaspemprov)

PRO PINANG – Sekretaris Daerah Provinsi Kepri TS Arif Fadilah menegaskan bahwa wilayah Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Kamboja, Malaysia dan Vietnam. Berkaitan dengan situasi Covid-19 ini, menurutnya dampaknya cukup luar biasa.

Akibatnya meskipun wisata Kepri berada diperingkat ke-3 di Indonesia, namun dirasakan sangat menurun sekali. Bahkan sektor industri juga mengalami penurunan karena bahan baku dari luar negeri tidak bisa masuk.

Kondisi ini disampaikan Arif saat memaparkan secara virtual webinar ‘Solisi Pembiayaan dan Pemasaran Produk Perikanan di Tengah Pandemi’ dengan tema ‘Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pengembangan Koperasi dan UMKM Sektor Perikanan’ di ruang rapat lantai 3 Kantor Gubernur Dompak, Tanjungpinang, Selasa (6/10).

Di seluruh Provinsi Kepri papar Arif tercatat sebanyak 2.132 koperasi, koperasi nelayan berjumlah 262 dan UMKM berjumlah 160.290.

“Para pelaku usaha dibidang Kelautan dan Perikanan sangat memerlukan kemudahan akses pembiayaan. Selain itu masalah lainnya adalah tingginya biaya logistik yang berdampak kepada tingginya harga jual dari pulau terluar, rendahnya pemanfaatan teknologi bagi koperasi dan UMKM dalam pengelolaan bahan baku dan rendahnya kualitas kemasan produk koperasi dan UMKM. Apa yang menjadi kendala para pengusaha dibidang kelautan dan perikanan itulah yang ingin terus kita dongkrak agar maju,” ungkapnya.

Dijelaskan Arif juga sesuai laporan bupati dan walikota, bahwasanya para nelayan tangkap tidak punya akses pemasaran. Ditambah lagi daya beli masyarakat sekarang kurang.

‚ÄúPasar lokal, restoran dan hotel di Kepri yang dulunya sangat eksis di dunia Pariwisata sekarang tampak kosong karena semuanya terbatas,” katanya.

Dampak dari Covid-19 bagi usaha perikanan dan budidaya ikan laut di Kepulauan Riau adalah menurunnya harga jual secara drastis.

Adapun hasil budidaya ikan, seperti kerapu biasanya dijual ke Malaysia, Singapura dan Hongkong. Untuk ikan hidup sebelum Covid-19 ada yang diekspor, namun semenjak coroba tidak ada lagi. Melainkan hanya di jual di pasar lokal dengan kondisi daya serap yang tidak maksimal.

“Harga kerapu sebelum pandemi berkisar Rp120 ribu per kilo, setelah Covid-19 ini menjadi hanya Rp70 ribu bahkan Rp50 ribu perkilo. Kalo ikan kakap, bawal bintang masih di harga Rp70 ribu perkilo,” imbuh Arif.

Diakhir pemaparanya, Arif juga menyampaikan jika nilai produksi rata-rata Rp60 ribu perkilo gram, dan sekarang sangat menurun. Sedangkan produksi ekpor Malaysia dan Singapura tidak ada lagi. Hanya di pasar lokal dan pasar modern di kabupaten dan kota. Olahan hasil perikanan sebelum Covid-19 bisa sampai 1000.000 juta ton lebih pada tahun 2019, dengan terdampak Covid-19 menjadi hanya 685 ribu ton di tahun 2020.

Sementara itu, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan Pemerintah terus berupaya untuk memulih kan UMKM khususnya di komisi lerikanan dan menjaga proses hulu hingga hilir dapat berjalan optimal melalui upaya dalam program strategis.

Dan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan total jumlah nelayan 2,3 juta jiwa dan pembudidaya ikan hampir 4 juta orang, dimana 96 persen nelayan Indonesia masuk dalam kategori nelayan kecil dan tradisional.(*/uma)