Penumpang di Pelabuhan SBP Tanjungpinang. F.Peri Irawan / Batam Pos

PRO PINANG – Dibukanya pintu perbatasan Indonesia dan Singapura tidak hanya disambut baik oleh pengelola destinasi pariwisata. Namun juga porter pelabuhan. Terlebih Kepri selama ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) asal Negeri Singa itu.

Limin, 69 salah seorang porter mengaku sudah mendengar informasi itu melalui pemberitaan beberapa waktu lalu. Dia pun senang jika dibuka, karena akan memberi peluang meningkatkan pendapatannya.

Apalagi selama tujuh bulan belakang pendapatan mereka sangat merosot saat pintu kedatangan wisman ditutup. ”Nanti kalau sudah dibuka kami juga ambil barang di sana, senang tentunya,” kata Limin saat dijumpai di Pelabuhan SBP, Minggu (25/10) kemarin.

Ia menuturkan sejak pandemi, mereka hanya mengandalkan membawa barang penumpang dari pelabuhan domestik. Ini membuat pendapatan jauh berkurang ”Sekarang satu hari kadang 30 ribu, kadang 50 ribu, dulu sebelum pandemi kalau pas ramai bisa 100 ribu,” tuturnya.

Ayah tiga anak itu mengaku senang jika pintu pariwisata dibuka kembali karena dapat mengangkat perekonomian masyarakat Tanjungpinang termasuk para porter. Saat ini Limin hanya bisa pasrah dan terus bekerja dengan situasi yang ada, walaupun sudah menerima bantuan beberapa kali dari Pemko Tanjungpinang atau Program Kementerian dari pusat berupa bantuan stimulus kepada warga terdampak.

Namun hal ini tentu tidak cukup memenuhi kebutuhan rumah tangganya. ”Kalau bantuan sudah sering dari Pemko Tanjungpinang atau dari Kantor Pos dan bantuan beras dari Bulog. Namun yang terpenting adalah perputaran ekonomi, tidak mungkin berharap dari pemerintah terus,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan salah seorang porter, Zulkifli, 45. Dirinya senang mendengar pintu masuk turis kembali dibuka karena itu menjadi ladang rezeki bagi para porter di pelabuhan.

Saat ini ia mengakali pemasukannya dengan kerja serabutan seperti mengurus pengiriman barang milik orang ke pulau-pulau, karena sistem kerjanya saat ini bergantian setiap hari dengan para porter lainnya.

”Kita kerjanya bergantian, hari libur saya kerja serabutan, biar cukup untuk kebutuhan di rumah, kalau mengandalkan ini pasti kurang,” tuturnya.

Tidak hanya itu karena sulitnya mendapat barang bawaan dari penumpang, pria yang sudah bekerja tujuh tahun itu terkadang membanting harga jasanya untuk membawakan barang baik ke dalam maupun keluar Pelabuhan SBP.

”Yang harusnya Rp 30 ribu, kadang saya minta Rp 20 ribu saja agar dia mau,” ucapnya. (*/raw/jpg)